Kamis, 19 Agustus 2010

Hari Ini Mulai Lagi

Sekian belas bulan tidak pernah mengisi blog kesayangan dan saya tidak pernah tahu alasan yang lebih baik dari alasan yang akan saya sampaikan sekarang, yaitu sibuk. Maaf, hanya satu kata itu yang bisa saya sampaikan sebagai alasan termudah bagi saya, daripada saya harus bersusah payah untuk berpikir demi alasan yang tidak-tidak.

Pendek kata, kalau Tuhan mengijinkan, kalau mata tidak bermasalah, kalau pikiran sedang lurus, kalau kepala tidak sedang kumat, kalau tangan tidak sedang sakit dan kalau jemari mau menyentuh mesra tuts komputer, saya berjanji, bersumpah kalau mungkin karena kalau kecil namanya sumpiah dan kalau besar namanya lumpiah, mudah-mudahan setiap minggu saya mulai dapat mengisi kembali KINI2603 dengan semua uneg-uneg baik yang tersimpan didalam kepala maupun didalam hati, insya Allah bila Tuhan mengijinkan.

Sejak 1 Juni kemarin, saya kembali berpindah kelain hati, bukan karena tidak setia, bukan karena bosan, bukan juga karena dikhianati, tapi karena para makhluk “extra teresterial” juga yang mengambil alih semua kepentingan itu. Setelah 14 tahun duduk manis pada industri perbankan, 6 tahun malang melintang bak traveler diindustri jasa konsultan, akhirnya, kembalilah saya kepada khitah pertama, mencangkul bumi dalam industri jasa keuangan, tepatnya berada dalam wilayah kekuasaan manajer investasi pada lingkup perusahaan aset manajemen.

Menyenangkan, kalau tidak mau disebut sebagai sesuatu yang sangat mengagetkan. Prosesnya sangat cepat, tepatnya lumayan cepat karena sesungguhnya tidak terlalu cepat-cepat amat. Dan pada akhirnya, duduk manis, berpikir tekun pada sebuah ruangan berukuruan 3,5m x 3,5m dihadapan notebook acer-ku tersayang, hasil jerih payah terakhir dimasa-masa akhir pengabdian saya di ai em kyu…. Kembali menjadi makhluk dibelakang meja, berpikir sambil berjualan untuk sebuah divisi yang diproklamirkan sebagai distribution channel dengan struktur kepangkatan setara oom Boediono dan jabatan setara dengan bagian tubuh manusia yang paling atas.

Mengabdi pada sebuah lembaga resmi yang tercatat pada Kementrian Kehakiman sebagai sebuah perusahaan terbatas, dengan nama kondang dari singkatan penunjuk waktu dunia yaitu GMT sebagai dasar filosofi perusahaan “ketepatan waktu”, dan moto terkini ”grow with the emerging world”, saya kembali mulai mempelajari apa dan siapa serta kenapa dan bagaimana reksa dana itu beserta seluruh turunannya.

Sangat menyenangkan, mencari sesuatu yang baru, mempelajari sesuatu yang belum pernah saya pelajari, tepatnya baru sedikit saya pelajari karena pada tahun 2003 yang lalu saya pernah membuat kemasan reksa dana dan deposito dengan julukan depoinvesta, dan lebih menyenangkan lagi karena saya bekerja pada perusahaan yang dari dulu sudah saya impi-impikan, bekerjasama dengan sesama warga negara Indonesia yang berasal muasal dari Cungkuo…., sangat menyenangkan.

Ini adalah pembuka dari kisah saya selanjutnya. Sesuai janji, mudah-mudahan saya selalu dapat menulis, menulis, dan menulis terus sampai akhir nanti.

Kamis, 16 Juli 2009

Pemilu Lagi...Masih Salah Lagi....

Keriaan pemilu sudah selesai, yang legislatif maupun yang presiden selesai sudah. Capek lihatnya, walaupun jelas tidak capek fisik karena saya bukan pendukung yang rela berdesakan, bukan panitia, bukan tim sukses apalagi sosok yang wara-wiri sibuk jualan untuk kemudian dipilih oleh rakyat semesta Indonesia dengan harapan menang tentunya, tapi jangan salah, capek hati lebih menjengkelkan.

Semula saya termasuk dalam kelompok orang-orang cuek yang tidak peduli dan “e ge pe” dengan kondisi politik nasional. Dan ternyata sifat saya itu memang didukung oleh sebuah penelitian dari suatu lembaga independen diluar sana yang mengatakan bahwa kaum menengah Indonesia adalah golongan yang paling tidak perduli dengan kondisi politik (dan ekonomi) negaranya dibandingkan dengan golongan menengah sejenis disesama negara Asia lainnya.

Bermula ketika tahun 2006 yang lalu saya mulai sering tugas keluar kota Jakarta (home based saya untuk mencari segenggam berlian) maupun keluar negeri. Keluar kota, untuk sesama kota besar apalagi kota kecil di Nusantara, saya merasa kok tidak ada perubahan yang signifikan. Kalau toh ada yang baru, bentuk, peruntukan, dan lokasi pasti ya itu-itu saja, yang baru dibangun yang lama jadi rongsokan. tidak dipertahankan agar dapat sejajar manis dengan sesuatu yang baru itu. Keluar negeri, lebih menyedihkan lagi, aduh Gusti biyung sing bahu rekso, negara lain (jangan bicara negara maju lah, malu, sesama negara berkembang saja, itupun bukan Malaysia dan Singapore, lebih malu lagi) seperti Thailand, Vietnam serta India ternyata bisa lebih gesit menyusun strategi, mengembangkan sumber daya manusianya, mengelola sumber daya alamnya, meningkatkan kesejahteraan rakyatnya melalui jualan produk dan jasa hasil negeri tercinta mereka dengan lebih baik dan benar dibandingkan dengan negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia yang entah kapan jayanya.

Ini bukan gosip, bukan khayalan apalagi sekedar jual kecap seperti janji para calon, ini fakta berdasarkan data yang saya lihat langsung untuk dapat dilaporkan melalui pandangan mata yang akurat karena tidak juling.

Tulisan ini sepenuhnya hasil pemikiran saya sebagai anggota masyarakat rakyat jelata, jadi, bagi yang merasa tersinggung, tolong jangan tersinggung karena boleh dong saya bersuara karena sebelum tanggal dan hari kadaluwarsa saya tiba, saya ingin melihat, setidaknya mengendus adanya perubahan yang signifikan bagi kemaslahatan rakyat sak Indonesia ini.

Saat sang biru-biru memenangkan pemilu kemarin, saya benar-benar mengharu biru, berduka, sedih dan kecewa dicampur rasa malu entah kepada siapa, sebabnya? yaaaah....ternyata bangsaku, sesama rakyat jelata yang selalu mengeluh dari tahun ke tahun hidup tambah (bukan tetap) susah karena semua mahal kok ya masih memilih yang salah.

Jangan marah ya Ibu dan Bapak kalau saya bilang salah. Lima tahun itu adalah masa yang telah dipikirkan masak-masak oleh orang-orang pandai diatas sana, cukup untuk menentukan apakah seseorang pemimpin bangsa ini layak untuk terus duduk dikursi empuknya atau..... cukup..., next..., berikutnya....orang baru silakan duduk.

Lima tahun kemarin? Harga beras semakin mahal, harga satu bungkus sayuran lodeh tetap lebih mahal dibanding tahun lalu, satu ikat kecil kangkung 2.500 rupiah, beberapa batang seledri – bawang daun dihargai 1000 rupiah, tomat satu ukuran sedang dapat ditukar dengan uang seribu rupiah. Suami satu, anak dua (sesuai program keluarga berencana), bawa uang sepuluh ribu rupiah kepasar tradisional di Kebayoran Lama, niat belanja untuk memenuhi gizi keluarga empat sehat lima sempurna.....hik....hik...hik...., apa daya uang tidak cukup, kelaparan? Jelas tidak! Makan tiga kali sehari? Masih bisa! Gizi tercukupi? Tentu tidak....!!!!!!! Mau diteruskan? Tentu tidak......!!!!!!!

Lima tahun kemarin? Jenderal TNI AD bintang empat, penuh tidak kurang tidak lebih, konon katanya pandai, juara diakademi dulu, selalu nomer satu. Head line news: “satu lagi pesawat udara milik TNI AU jatuh di....”; Breaking news: “sekian puluh prajurit TNI tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di...”; Berita terkini: “sebuah helikopter milik TNI AD jatuh dikawasan...ketika sedang berlatih...”; berita utama dihampir seluruh media cetak: “kapal perang tentara Diraja Malaysia melenggang masuk melewati garis perbatasan, berkelok manis tak terkejar oleh kapal TNI AL....” Ini masalah harga diri, ini masalah kebanggaan bangsa, ini masalah kedaulatan negara pak jendral! Kata Ibu saya, kalau kita sudah tidak memiliki apa-apa, kalau kita sudah menjual semua harta benda kita, satu yang harus dipertahankan sampai mati, harga diri! Bagaimana mungkin alutsista kita bisa dedel dowel saat seorang jenderal penuh memimpin bangsa ini? Alasan skala
prioritas, anggaran tidak cukup, perbaikan kondisi ekonomi rakyat lebih didahulukan. Didahulukan? Apa yang berubah? Rakyat tetap susah! Mau diteruskan? Tentu tidak.......!!!!!!!!!!

Dan masih banyak lagi fakta dan data yang bisa kita peroleh tanpa harus bersusah-susah, cukup rajin membaca koran, mendengar berita ketimbang sinetron ditelevisi, rajin duduk manis didepan komputer, mencari tahu via google manis nan baik hati, sumber berita yang sahih, akurat, baik dan benar serta objektif perihal apa yang telah dikerjakan oleh sang jenderal bersama teman dan sekutunya selama lima tahun kemarin.

Ayolah teman, harga diri itu mutlak kita miliki, kebanggaan bangsa itu harus kita punyai, kedaulatan negara itu harga mati. Mosok bisanya hanya meniru saja. Katanya kreatif, gembar-gembornya harus dan kudu kreatif, lihat... warna sudah biru, lay out gedung saat deklarasi juga sudah mirip dengan yang disono, bahkan papan yel-yel pun tidak jauh berbeda, masa juga masih harus meminjam jingle-nya produsen mie untuk iklan kebanggaan, kasihan kan, pastinya mereka tidak berani menolak, mosok jendral dilawan.

Kelihatannya mewah, kelihatannya intelek, kelihatannya keren, tapi jangan lupa....hasilnya? Cap legalitas dibenak kaum muda bahwa meniru itu adalah baik, meniru itu adalah benar, meniru itu tidaklah salah, melekat mudah dibenak para muda tersebut. Pantas, sudah mulai ada band-band baru yang tanpa malu melakukan plagiat atas pemusik luar negeri. Pantas banyak kaum remaja yang bergaya luar dalam: jasmani, mulai dari pakaian dan pernak-perniknya; rohani, mulai dari pola bergaul sampai dengan pola berpikirnya, plak...blas...western minded, ck...ck...ck.... Ibu dan Bapak pasti tidak lupa dong pada wejangan orang bijak yang mengatakan bahwa mesin foto copy terbaik didunia itu mereknya adalah anak-anak..... Lha kalau bapaknya tukang niru tergila-gila dengan negeri wong londo (baca: barat) ya tidak aneh kalau gaya kita semua pun berubah seperi wong londo.... makan sehari-hari masih tiwul kok tega panggil mami pada si mbok....
Jadi benar nih....jati diri kita mulai menghilang? Ya iya, buka mata dong dan telinga, tengok kiri tengok kanan...duh gusti Allah, mau diteruskan? Tentu tidak!!!!!!!!!!!!!
Kita tidak harus seperti katak dalam tempurung, cupet tidak membuka hati, membuka telinga dan membuka pikiran. Yang baik bisa digunakan, yang jelek jangan lah, mosok hal-hal kecil saja harus meniru, bukankah kita sudah memiliki ahli pencitraan yang luar biasa, khas kita, Indonesia banget, tapi tidak norak malah oke untuk dipuja dan dibanggakan.
Kalau kita lihat sejarah bangsa ini, 350 tahun dijajah oleh Belanda dan tiga tahun Nipon-Nipon itu menjajah Indonesia...itulah cikal bakal kita menjadi bangsa yang sudahlah sulit berubah, sulit menerima perubahan, tidak mau mengambil resiko dan yang paling mengenaskan kita semua terlena, lupa bahwa kita salah, lupa bahwa kita kental dengan sifat pemalas dan penakut, anti perubahan, sangat pelupa, cepat merasa puas dan senang dibohongi....
Buktinya....yang susah ya cengengesan pasrah sumarah menerima kesulitannya dan yang telah mapan sangat tidak mau berisiko, takut akan perubahan yang akan menyeret mereka menjadi susah kembali (padahal belum tentu kan...siapa yang bisa memastikan masa depan....).

Ups...maaf...saya selalu menyebutkan kata kita, kita bangsa ini, jangan tersinggung ya, karena hal tersebut terjadi pada mayoritas rakyat Indonesia, 70% - 80% rakyat Indonesia masih bersifat seperti pada alinea di atas (mengutip sang narasumber dari sebuah stasiun televisi berita terkemuka di Jakarta).

Dengan karakter buatan penjajah masa lalu, serta kreasi ndoro-ndoro sang penguasa yang paham dan tahu benar secara pasti bagaimana menggunakan kesempatan istimewa atas “kebodohan kita semua”, maka dilakukanlah cara-cara yang penuh kemustahilan untuk mendapatkan keuntungan bagi satu golongan, satu pihak bahkan satu orang saja. Kita terus dinina bobokan, dimanja dan dibuat sedemikian rupa menjadi bangsa yang tidak berani mengambil resiko, selalu mencari aman, mencap mereka yang berani mengambil resiko sebagai kaum ceroboh yang gegabah, dan sesungguhnya....berani mengambil resiko itu bukan berarti ceroboh atau gegabah karena seorang “risk taker” pun tidak pernah mau mati dengan sia-sia.

Perlu contoh untuk kebodohan kita? Tidak lupa kan dengan iklan satu putaran yang menghebohkan itu? Masih ingat kan dengan bantuan langsung tunai yang pemberiannya dipas-paskan saat kampanye berlangsung! Dan pasti sangat terkenang dengan gaji ketiga belas yang baru saja dikucurkan sekian hari sebelum tanggal pencontrengan pilpres.

Rakyat kita (maaf) masih banyak yang bodoh, jadi semua yang tadi saya sebutkan dan dapat dikategorikan layaknya sebagai iklan sangat berpengaruh bagi mereka dalam menentukan pilihannya masing-masing. Lihat saja hasil research sebuah biro ternama pada tahun lalu, mayoritas kita bangsa Indonesia masih mengacu kepada iklan diberbagai media masa saat membeli sesuatu yang mereka perlukan. Anak-anak kitapun masih mengambil keputusan untuk bersikap dan bergaya tertentu (yang lebih banyak negatifnya daripada sisi positifnya) berdasarkan tontonan acara ditelevisi, dan pastinyalah memilih sang calon pun pada akhirnya karena iklan diberbagai media. Pemikiran sederhana dari para kaum tersebut adalah “benar juga ya kalau satu putaran itu ngirit....” bukan karena pemikiran rasional berdasarkan fakta dan data yang ada, atau lebih parah lagi “pilih yang menang saja ah...”
Ayolah Bapak/Ibu, jangan gunakan (maaf) kebodohan saudara kita untuk mendapatkan keuntungan sepihak!

Sudah tidak jamannya lagi untuk mengatakan bahwa melakukan perubahan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Kita memang sudah harus lari, bukan hanya sekedar jalan cepat apalagi jalan santai, terlebih berlelet-lelet alias berlambat-lambat. Rapat sampai harus sepuluh kali bolak-balik untuk sebuah keputusan besar? Telitinya sih bolehlah, niat untuk menghasilkan yang terbaik tetap harus diacungi jempol, tapi lama? Tidak...tidak....saatnya kita harus mampu mengeluarkan keputusan secara “instan, tepat, baik dan benar”, pasti bisa, bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.

Coba tengok CEO kita diperusahaan asing atau perusahaan swasta nasional, ditengah persaingan yang mulai membabi buta, ditengah tekanan para pemilik perusahaan, bermula dari terpaksa menjadi biasa, akhirnya tidak hanya mie instan yang mereka santap sesekali, tapi keputusan yang instanpun kerap diambil dengan hasil yang memuaskan, tidak merugikan para pihak, tidak bersinggungan dengan ranah hukum dan yang pasti....cepat dan tepat!

Hal ini memang harus dilakukan, tidak boleh tidak, jangan nanti, apalagi sabar...sabar...sabar... Apa tidak malu dan greget alias gemas melihat Vietnam, Thailand dan India yang terus melaju meninggalkan kita.

Contoh soal, perang Korea berakhir pada bulan Juli 1953, tepatnya 56 tahun yang lalu Korea Selatan yang sempat porak poranda oleh peperangan itu mulai berbenah diri. Hasilnya, sejak dekade sembilan puluhan dengan bangga mereka berani memamerkan pertumbuhan ekonominya yang luar biasa, bertranformasi menjadi salah satu kekuatan ekonomi global dan bangga meraih predikat sebagai salah satu dari empat macan Asia!

Indonesia? Merdeka tahun 1945, dekade sembilan puluhan? Okelah, belum siap, tahun 2009? Masih belum siap juga! Bagaimana ini....?????

Masa depan hanya Tuhan yang tahu, itu milik Nya, hak penuh yang tidak dapat diganggu gugat. Tapi kita, para pemilih, walau hanya sekedar masyarakat biasa rakyat jelata tetap dapat dan harus jeli memelototi rekam jejak sang penguasa selama lima tahun kebelakang. Cari tahu tanpa emosi, yang objektif, dengan menggunakan akal sehat, berdasarkan fakta dan data.

Secara sadar maupun tidak sadar, jangan pernah mau dibodohi karena sebagian dari kita jelas memang tidak bodoh, berakal sehat, malah pintar pandai membanggakan.

Jadi kesimpulannya? Kita yg salah! Kita kaum yg bisa membaca & menulis, kita kaum yg memiliki kesempatan untuk belajar & mencari tahu, kita kaum yg diberi keleluasaan lebih oleh Nya untuk mendapatkan informasi dengan mudah dibanding yg lain seharusnya berbuat lebih banyak untuk saudara-saudara kita yang merasa “berbangsa satu, bangsa Indonesia”, yang belum bisa membaca dan menulis, yang belum mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mencari tahu, yang belum diberi keleluasaan oleh Nya untuk mendapatkan informasi dengan mudah.

Sebarkan kebenaran, bukakan pikiran mereka, sampaikan informasi berdasarkan data dan fakta dengan akurat, baik dan benar tanpa memihak siapapun, seobjektif mungkin.

Biasakan teliti sebelum membeli, mencari tahu sedalam-dalamnya sebelum mencontreng, jangan biasakan memberikan informasi berdasarkan "katanya - katanya dan katanya" apalagi hanya berdasarkan “cari aman” dan lebih parah lagi kalau “pilih yang menang sajalah”.
Selebihnya...? Terserah mereka, yang penting satu langkah mencerdaskan bangsa telah kita lakukan.

Ingat, mencontreng itu hanya dua detik, jangan sampai kita menanggung sesal selama lima tahun!

Mosok sih sepanjang segala abad mau terus dibodohi...

Rabu, 08 April 2009

PEMILU 2009

Saat ini warga negara Indonesia, seharusnya semua yang sudah masuk dalam kategori dewasa, sekali lagi seharusnya, semestinya dan seyogyanya, saat ini dalam kondisi menanti, tidak sabar dan senang menghadapi pemilu besok, 9 April 2009. Seharusnya dan semestinya, kita semua persis seperti rakyat Amerika nun dibelahan dunia sana, tahun lalu berbondong-bondong, sejak pagi, rela mengantri dalam udara yang sangat dingin, untuk memberikan suaranya memilih sang wakil rakyat, partai pujaan hati – harapan bangsa, dan ujungnya adalah pemimpin bangsa yang terpilih dan terbaik diantara ratusan juta rakyat Amerika disana.

Seharusnya, semestinya dan seyogyanya kita semua juga begitu, mengutip iklan salah satu partai yang tidak saya pilih, tapi iklannya cukup baik, diiklankan dan disampaikan dengan baik oleh seorang selebirtas berwajah manis bahwa nasib bangsa ini berada ditangan kita. Seharusnya, semestinya dan seyogyanya kita juga rela berbondong-bondong pergi menuju tempat pemilihan suara, dengan hati yang mantap, yakin dan pasti, walaupun kita tahu bahwa harapan kita itu belum tentu terwujud, saat mencontreng partai harapan atau lebih fokus lagi saat mencontreng nama wakil rakyat yang kita harapkan dapat mewujudkan kembali Nusantara Jaya!

Empat puluh partai, sepuluh kali empat sama dengan empat puluh, coba kita bayangkan bersama, empat puluh partai dengan sederet nama wakil rakyat, yang, mohon maaf, sembilan pulun persen lebih pastinya kita tidak mengenal mereka, yang, mohon maaf, sembilan puluh persen lebih pastinya kita tidak mengetahu visi dan misi mereka, tidak mengetahui tujuan akhir mereka, tidak mengetahui alasan mereka begitu ngotot, bersikeras ingin menjadi wakil rakyat, yang, mohon maaf, kita tidak pernah tahu apakah mereka memiliki kapabilatas yang sesungguhnya diperlukan sebagai wakil rakyat, baik kelas daerah maupun kelas pusat, untuk bekerja keras mengangat seluruh sektor yang terpuruk dinegeri ini untuk kembali berkibar seperti sekian ratus tahun yang lalu saat Nusantra Jaya menjadi salah satu negeri yang disegani seantero jagad, kaya dan makmur bagi rakyatnya saat itu.

Kita, masyarakat umum, rakyat jelata yang terdiri dari sekian lapis, mulai dari lapis terbawah sampai dengan lapis yang tidak lagi menganggap bahwa uang adalah suatu objek alias uang mereka tidak berseri, apapun dan dimanapun lapisannya, secuek apapun, seegois apapun, seindividualis apapun, seguyub apapun, sekompak apapun, pastinya, kalau masih dalam batas kategori normal, dan mau sedikit jujur minimal kepada diri sendiri, pastilah memiliki harapan dan impian yang sama atas sebuah negara yang kita diami, kita hirup udaranya, kita konsumsi hasil buminya, kita injak tanah datarnya, bahwa negara yang aman, rendah tingkat kriminalitasnya, makmur, rendah tingkat kemiskinannya, maju, rendah tingkat buta ilmu pengetahuannya, damai, rendah tingkat intimidasinya, adil, rendah tingkat ketidak puasan masyarakat kepada penguasa, adalah negara yang kita impikan bersama dan menjadi tujuan akhir dalam sebuah realita bernegara dan bermasyarakat.

Jangan lupa, menurut berita dalam babad sejarah dimana-mana, Nusantara Jaya memang pernah terjadi, jadi ini bukanlah angin surga atau impian belaka. Kerja keras penguasa dalam mewujudkan semua ini, dengan bantuan masyarakat pastilah dapat terealisir. Mungkinkah? Mungkin!

Masalahnya, nah ini dia, apa iya orang yang kita pilih atau partai yang kita pilih adalah mereka yang tepat untuk mewujudkan semua itu, lebih dalam lagi, apa iya, besok presiden yang kita pilih adalah dia yang tepat untuk mengawal dan memimpin seluruh lapisan dan elemen bangsa dalam mewujudkan Nusantara Jaya!

Dengan segala kesedihan, ketidakpastian dan kegamangan, terus terang, saya yakin seratus persen bahwa saya tidak yakin kalau kita telah memilih wakil yang tepat, partai yang tepat dan presiden yang tepat, lho....kok....???

Untuk saya, sekian ratus orang yang telah menjadi wakil kita di Senayan toh tidak berbuat banyak kalau tidak mau disebut belum berbuat sesuatu yang signifikan, untuk saya, sekian puluh orang yang memimpin departement toh belum berbuat banyak kalau tidak mau disebut belum berbuat sesuatu yang besar untuk rakyat dan untuk saya, satu orang yang memimpin bangsa ini toh masih sama dengan pemimpin-pemimpin kita yang terdahulu, gitu-gitu aja, tidak lebih, tidak juga kurang, standar, kalau dirapor nilainya 6 kalau dikuliah nilainya c, yang sedang-sedang saja.... Kasihan deh kita...!!!

Tapi itulah hukum alam, itulah faktanya, itulah kondisi yang harus kita terima dan kita alami. Kalau kita ingin mewujudkan Nusantara Jaya, ya kita, masyarakat umum rakyat jelata inilah yang harus berbuat, jangan diam saja, jangan hanya bisa bicara, mengeluh, marah-marah dan berdemo. Gak usum, mengutip kalimat yang sering diucapkan oleh mbok Kasiani, cleaning service dikantor.

Berbuat apa? Bagaimana? seperti apa? dan dimana? Mudah: ikut pemilu, mencontreng, dengan baik dan benar di TPS, gampang kan? Yakinlah, seperti kata sang selebirtas ditelevisi selama masa kampanye kemarin, masa depan bangsa ini ada ditangan kita, JANGAN golput! Mungkin atau tepatnya lagi hampir dapat dipastikan bahwa dia yang kita pilih belum tentu dapat mewujudkan apa yang kita inginkan, dia yang kita pilih mungkin justru akan mengecewakan kita, dia yang kita pilih bahkan mungkin tidak terpilih untuk menjadi wakil kita disana.

Yang penting, proses hukum alam ini sudah kita lakukan, kita telah berbuat untuk, sejak saat ini, ikut serta melakukan sistem seleksi alam, secara berkala, membutuhkan sekian kali pemilu dikemudian hari, memerlukan sekian puluh tahun untuk pada akhirnya, kita mendapatkan wakil yang tepat tanpa harus bingung memilih dari sekian banyak partai, kita mendapatkan pemimpin yang tepat untuk membangun dan memimpin bangsa ini mewujudkan impiannya, kebali menjadi Nusantara Jaya dengan nama yang pasti, NKRI Jaya!

Jadi, kalau kita tidak mengenal dia yang kita pilih untuk menjadi wakil kita disana nanti, tidak yakin dengan dia yang kita pilih untuk menjadi sinomor satu yang tertinggi dalam bangsa ini, tidak masalah, no problemos domestos no mos (maaf, agak kurang inovatif, nyontek iklan lagi). Bukankah durian manis berbiji kecil berdaging tebalpun membutuhkan waktu bertahun-tahun sejak kita tanam bijinya, sampai akhirnya dapat kita nikmati rasa legitnya, apalagi NKRI Jaya, pasti lebih lama dari sekedar buah durian maknyus itu....

Selamat memilih, yakinkan diri untu tidak mencoblos tapi menyontreng, tidak yakin akan pilihan kita tidak masalah, yang penting bukan asal-asalan dan suara kita telah kita pergunakan dengan baik dan benar, proses seleksi alam tengah kita lakukan..., hidup NKRI (Jaya)!....










Rabu, 18 Maret 2009

CEMBURU

Kali ini saya memberanikan diri untuk apa yang sampai saat ini belum saya alami yaitu bicara masalah cemburu antara isteri dan suami.

Teman saya dikantor, beberapa hari belakangan ini tampak sangat tidak seperti biasa. Dandan ala kadarnya (padahal dia termasuk kategori B, good looking, enak dilihat dan sedap dipandang, itu untuk saya yang sesama perempuan, penilaian dari lawan jenis mungkin akan lebih dari itu), pekerjaan agak terbengkalai, hampir selalu lewat tenggat waktu, bicara seperlunya kalau tidak mau dikatakan judes dan berkali-kali saya memergokinya tengah menatap kosong layar monitor, seolah-olah berpikir untuk menyelesaikan hasil analisa, tapi yang jelas itu hanyalah gaya kamuflase dia dalam melakukan kegiatan barunya, melamun.

Sebagai teman yang secara sepihak saya beranikan diri untuk menyatakan adalah sahabat sejati dalam suka dan duka, saya putuskan untuk bertanya langsung kepada yang bersangkutan, walaupun rasanya sudah cukup telat, karena kejadian ini sudah berlangsung kurang lebih tiga minggu. Saya masuk keruangannya, pintu ditutup, walaupun hakul yakin semua orang tetap dapat melihat jelas apa yang kami lakukan, maklum jaman transparansi, semua dinding terbuat dari kaca, namun puji syukur dikantor kami tidak semua dinding berkuping.

Pertanyaan singkat dan padat langsung saya lontarkan, “kenapa sih kamu” dan.... tanpa didahului dengan bunyi gledek atau samberan petir yang keras, langsunglah dia menangis sesenggukan, cukup lama dan cukup mengenaskan, meskipun masih belum bisa dimasukan dalam kategori “nangis bombay”.

Setelah menunggu cukup lama dengan kesabaran yang cukup tinggi, karena sesungguhnya saya adalah jenis mahluk hidup yang sama sekali tidak dapat melihat dan mendengar mahluk lain menangis, baik yang kecil, remaja maupun dewasa, baik manusia maupun hewan, kan sudah saya bilang tadi, ini masalah tangis-menangis diantara mahluk, jadi jangan tersinggung kalau saya masukan juga jenis mahluk hewan, akhirnya, tersebutlah sebuah cerita antara dua mahluk berbeda kelamin yang terikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan, singkat kata, dia cemburu dengan apa yang dilakukan oleh sang suami tercinta selama ini.

Untuk mempermudah kita mencerna dan memahami perasaannya, saya coba untuk menceritakan kembali apa yang dia ceritakan kepada saya. Sebetulnya kejadian ini sudah dia alami sejak tahun-tahun pertama pernikahannya. Suatu saat, pulang dari luar kota untuk suatu tugas kantor, dia langsung merebahkan diri diatas tempat tidur, dan saat itu juga dia meraba dan menemukan adanya sehelai rambut panjang yang tertinggal dikasur mereka. Perasaannya meluap-luap karena saat itu juga dia langsung membayangkan sang suami melakukan tugas yang hanya secara sah dan dilindungi oleh agama, hanya dia yang boleh melayaninya. Tidak sampai disitu, dia juga tidak tahan melihat sang suami sering menatap mata pelayan perempuan (ketika berbelanja ditoko) atau menatap perempuan lain yang sedang sama-sama mengantri didepan ATM, belum tuntas, masih ada kebiasaan sang suami dipagi hari, dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaus oblong, duduk diteras depan sambil membaca koran dan menghirup kopi yang dia hidangkan, saat itu dia selalu yakin sang pujaan hati tengah melakukan aksi tebar pesona pada perempuan-perempuan yang lalu lalang didepan rumah mereka.

Tetap belum selesai, perasaannya semakin terbakar ketika seorang tetangga, ibu-ibu setengah baya teman satu arisan menanyakan tugas suaminya yang sudah tiga tahun ini dipindah ke Jawa Tengah, sehingga hanya diakhir minggu mereka dapat berkumpul. Menurut dia, pertanyaan itu memojokkannya dan memberikan isyarat bahwa sang ibu setengah baya tersebut mengetahui suatu rahasia yang tengah dilakukan oleh sang suami nun di Jawa Tengah sana.

Selama dia bercerita kepada saya, diselingi dengan beberapa kali tarikan napas panjang dan sekaan sejumlah tissue dihidungnya, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan kuping saya dengan baik (yang akhir-akhir ini sering tulalit) dan secara simultan juga memaksa otak saya untuk berpikir dengan lurus dan objektif dalam menanggapi seluruh kisah sedih tersebut.

Setelah seluruh masalah dia beberkan dengan rinci dan sistematis dan melihat kondisi kejiwaannya yang pasti belum pulih, walaupun nampak sedikit kelegaan dalam wajahnya karena sudah mengeluarkan seluruh isi hatinya dengan sukses, akhirnya otak saya dengan lugas menitahkan mulut untuk mengatakan, “kamu istirahat aja dulu deh, ambil cuti, tenangkan pikiran dan kalau ada apa-apa telepon aku, sedia setiap saat 24 jam sehari, tujuh hari seminggu”. Menurut saya hanya kalimat itu yang patut saya sampaikan kepada dia, karena kalau langsung saya sampaikan hasil pemikiran saya selama duduk empat jam non stop dihadapan dia, sangatlah tidak bijaksana dan akan membuat dia tidak merasa lega malah akan menambah panas bara yang ada didalam hatinya.

Sementara dia cuti, dan saya yakin minggu depan dia akan masuk dengan wajah yang lebih tenang walaupun pasti permasalahannya belum selesai, saya coba untuk menganalisa apa yang terjadi dengan diri teman saya itu, suatu pekerjaan yang harusnya bisa saya lakukan dengan baik karena toh pekerjaan saya sehari-hari adalah menganalisa perusahaan-perusahaan berbagai industri yang tengah megap-megap memerlukan bantuan dari kami.

Saya yakin karena ini juga terjadi pada diri saya (walaupun terbatas pada perasaan yang belum terikat secara sah dan legal) bahwa perasaan cemburu itu adalah perasaan yang sangat wajar dan harus ada dalam suatu hubungan antara dua manusia, bahkan menurut saya perasaan ini juga dapat timbul tidak melulu antar lawan jenis tapi juga dapat timbul antar sesama jenis dalam kategori persahabatan bukan kategori hubungan khusus antar sesama jenis.

Sepanjang cemburu tersebut dapat diselesaikan dengan baik, artinya perasaan tersebut dapat diutarakan dan dikonfrontasikan kepada dia yang kita cemburui dan ini yang paling penting, sepanjang rasa cemburu itu tidak terbukti karena tidak dibarengi dengan bukti-bukti yang nyata apalagi hanya berlandaskan bisik-bisik tetangga, jalan yang termudah adalah mengubur dalam-dalam perasaan itu dan membuangnya jauh-jauh entah kemana. Cukup perasaan itu hanya dijadikan bukti adanya perasaan lebih yang kita berikan kepada dia yang kita cemburui tanpa harus memperpanjang apalagi merusak kehidupan kita yang selama ini sudah berjalan dengan baik.

Kalaupun toh perasaan cemburu itu pada akhirnya terbukti, membicarakannya secara baik-baik secara langsung maupun dengan bantuan pihak ketiga adalah cara yang terbaik dari pada langsung melenggang laju menuju pengadilan agama ataupun pengadilan negeri setempat.

Kembali kepada kisah sedih teman saya di atas, cobalah berpikir dengan kepala dingin ditengah kesejukan udara yang diberikan oleh mesin pendingin di kamar ketika kita menemukan sehelai rambut panjang diatas tempat tidur yang nota bene adalah area yang bersifat sangat pribadi. Ijah janganlah serta merta diangkat keatas untuk dijadikan tertuduh utama karena dialah satu-satunya perempuan dirumah yang berambut panjang. Coba ingat-ingat titah kita pertama kali ketika menerima Ijah resmi sebagai pramu wisma dirumah untuk menangani semua tetek bengek urusan rumah tangga, pasti salah satunya adalah meminta Ijah untuk membereskan semua tempat tidur dipagi hari. Perlu diingat juga shampo apa yang selama ini kita berikan kepada Ijah, jangan-jangan shampo yang kita beli berdasarkan rayuan iklan ditelevisi dan dimedia cetak selama ini telah menggerogoti rambut Ijah yang lurus, hitam lagi panjang hingga rontok berhelai-helai setiap harinya akibat tak bertanggung jawabnya shanpoo produk iklan tersebut.

Begitu juga masalah tatap menatap yang ternyata sangat menyakitkan sahabat saya itu. Tatapan langsung sang suami kepada lawan jenisnya baik ketika sedang melakukan transaksi dipusat perbelanjaan maupun ketika mengantri didepan ATM hendaknya kita terima dengan arif dan bijaksana. Bukankah salah satu yang diajarkan oleh orang tua ketika kita masih kecil dulu adalah “selalu menatap mata lawan bicara, kalau matamu kemana-mana ketika diajak bicara artinya kamu tidak sopan, tidak menghargai pihak yang mengajak bicara”, ingatkan? Atau kita dapat mengutip apa yang ada dalam kitab suci kita masing-masing yang salah satunya mengatakan “lihatlah yang baik maka kamu akan menjadi baik”. Bukankah mereka yang diciptakan cantik dan ganteng adalah salah satu bentuk yang baik dan patut dilihat selama itu hanya untuk dilihat tanpa ada keinginan untuk melakukan hal dan hil lainnya.

Kembali lagi pada kisah sedih lainnya ketika sang suami duduk santai setiap pagi diteras depan. Percayalah, ketika baik perempuan maupun laki-laki dipagi hari berlalu lalang didepan rumah kita, adalah suatu perkerjaan yang sia-sia apabila kita berusaha untuk melakukan upaya tebar pesona kepada mereka semua, kenapa? Karena saat itu, saat mereka semua berjalan dengan terburu-buru untuk mendapatkan tempat duduk yang terbaik pada salah satu alat transportasi yang mereka tuju, boro-boro menanggapi tebar pesona yang ditengarai tengah dilakukan oleh belahan jiwa, tidak jatuh karena terantuk batu saja sudah bagus, yang penting jalan cepat, cepat sampai diterminal atau stanplaat, cepat naik angkot, bis atau ojek atau tumpangan lainnya, cepat sampai kantor atau kampus dan cepat mendapatkan kesejuakan udara dingin yang diberikan oleh alat pendingin dikantor atau diruang kuliah. Percayalah!

Terakhir, menanggapi bisik-bisik tetangga, semakin hati, pikiran dan mata ditutup oleh kecurigaan dan prasangka serta hanya telinga yang dibuka lebar-lebar untuk setiap berita dan pertanyaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan maknanya, maka bara api yang ada dihati akan semakin besar menyala, pikiran akan semakin ciut pertanda tidak dapat lagi digunakan dengan baik dan mata akan menjadi semakin rabun untuk menjadikan kita tidak dapat melihat tanda-tanda kebenaran yang sesungguhnya ada.

Untuk itu, maknailah rasa cemburu dengan arif dan bijaksana. Tidak berarti bahwa belahan jiwa pastilah setia sehidup semati sepanjang masa, kewaspadaan tetap harus dijaga namun dari segalanya, bertindaklah ketika bukti nyata sudah ditangan anda.

Selamat menikmati kecemburuan dengan baik.....



Selasa, 09 Desember 2008

Hanya Sebuah Cerita

Hai, apa kabar, mudah-mudahan kamu tidak kaget menerima suratku ini. Sebetulnya aku tidak begitu suka melakukan hal ini, aku lebih suka langsung bicara dengan kamu, tapi karena aku tahu bahwa aku selalu takut dan kalah dengan kegalakan-mu, terpaksa aku melakukannya melalui surat ini. Aku sangat berharap kamu membacanya sampai habis, ini sangat penting untuk hubungan kita selanjutnya.

Sejak kejadian itu, dulu, aku sudah dan sangat sudah memaafkan kamu, aku juga berharap kamu memaafkan ku atas kejadian itu, mudah-mudahan. Tapi ternyata memaafkan itu tidak semudah seperti saat kita mengucapkannya. Aku selalu bersumpah kepada diriku bahwa aku sudah memafkan mu, tapi kerap rasa itu, rasa sakit yang teramat sangat selalu menghampiri diriku, hampir setiap hari – walaupun tidak setiap saat.

Akhirnya, setelah ku pertimbangkan masak-masak, aku putuskan untuk mengirim surat ini, mengeluarkan semua uneg-uneg-ku, berharap menjadikan kamu tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan yang paling penting dari semua itu menjadikan aku benar-benar memafkan mu. Yang aku tahu, aku pahami dan aku yakini, sesungguhnya bukanlah memaafkan seseorang apabila disamping kata maaf masih ada embel-embel lain yang menyertainya. Konon katanya, ketika kita berani mengatakan maaf artinya benar-benar memaafkan, tanpa embel-embel, tanpa keberatan, tanpa tapi, tanpa hanya dan lain sebagainya.

Sejujurnya aku menganggap apa yang kamu dulu lakukan kepada ku adalah semata-mata karena niat baik kamu terhadap aku. Aku yakin itu, karena belasan tahun kita bersama menjadikan aku sedikit banyak memahami karakter mu. Tapi sayang, niat baik itu belum tentu benar apalagi kamu tidak sepenuhnya mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Betul bahwa aku bermasalah dengan banyak orang, untuk suatu alasan yang sampai matipun aku tidak akan pernah sampaikan kepada siapapun. Betul bahwa kala aku melakukannya aku berbohong agar aku dapat mewujudkan itu semua, tapi jelas aku akan dan harus berbohong, karena seperti yang aku sampaikan tadi alasan aku melakukan hal itu adalah alasan pribadi yang tidak dapat diganggu gugat. Betul juga sampai akhirnya aku mengganggu kenyamanan dan ketenangan mu dengan memakai departemen mu sebagai tameng atas apa yang aku lakukan. Semuanya betul, tidak perlu dimasalahkan dan aku mengakuinya bahwa itu memang betul.

Tapi entah dari mana dan siapa yang memulai, beredarlah keseluruh lantai, merambat keseluruh Indonesia (tentunya dalam lingkup kita, tidak termasuk khalayak ramai dan rakyat jelata) berita bahwa aku melakukannya karena aku menjalankan kehidupan bebas (tepatnya lagi penganut faham sex bebas) dengan bergonta ganti pasangan muda yang kinclong dan brondong, memasuki dunia gemerlap tanpa henti setiap malam (kalau ini benar, berapa botol minyak angin yang harus aku balurkan keseluruh tubuh, kamu tahu kan aku tidak kuat kena angin malam, sesekali boleh lah, itu pun kala usia masih kepala 2 dan diawal kepala 3), pengkonsumsi setia shabu dan barang-barang lain sarupaningnya serta terpaksa cuti dua minggu demi menggugurkan jabang bayi dalam perutku ini (padahal saat itu aku sedang memuja Nya, beribadah langsung ditanah suci pilihan Nya).

Dalam hitungan hari semua berubah, berbalik, berputar berlawanan arah. Apa yang telah aku bangun dengan tidak mudah, selama puluhan tahun, sesuai pesan dari sang guru dirumah untuk selalu menjaga nama baik ku, menata karir ku yang mulai terlihat moncer, menjaga persaudaraan dan persahabatan demi kemaslahatan dan kenyamanan hidup ku selanjutnya, hilang tak berbekas, lenyap terbawa angin, entah kemana.

Kebiasaan kita untuk selalu bersama selama sekian belas tahun yang telah dihafal bahkan oleh nyamuk-nyamuk didalam gedung pun, berhenti mendadak. Semua meninggalkan ku, semua mulai menghinaku, memandang rendah diriku, menertawakanku dan pada akhirnya aku kehilangan semuanya, bukan hanya orang-orang yang aku cintai tetapi semua yang aku miliki pun turut hilang......

Semua mendadak mengenalku dan saling meyakinkan bahwa apa yang aku lakukan benar terjadi, semua itu sungguh nyata tanpa bumbu apapun sehingga mereka yang masih mau mendengarkanku pun bingung, bingung akan semua itu yang sangat berkesan nyata, berkesan bahwa aku benar melakukn semua itu, mereka bingung apa sesungguhnya yang terjadi.

Ditengah hingar bingar dan gegap gempitanya aku menjadi selebriti dadakan yang lebih rendah dari kotoran anjing sekalipun (ups....maaf, tapi memang benar itu terjadi, seseorang berkata itu langsung kepadaku), dengan inisiatif sendiri, berdasarkan niat baik yang aku yakini, kamu dan kamu menghubungi para pihak yang tersebar diseantero ujung dunia untuk menanyakan apakah aku melakukan itu kepada mu, hai kawan diujung sana.

Dan seperti yang aku katakan tadi, jadilah aku mendadak kondang keseluruh empat penjuru angin. Tanpa pengadilan yang jelas, hanya ditandai dengan pertanyaan ringan yang tidak terbukti (karena aku membawa bukti bahwa itu semua sudah selesai) dan diakhiri dengan diskusi empat mata dengan sang hakim yang justru mempertanyakan pertanyaan para pejabagat teras akan kecurigaan mereka yang menengarai bahwa aku penyuka sesama jenis, akhirnya terjuntailah aku dengan keharusan tanpa alasan, meninggalkan tempat yang sangat aku cintai.

Aku tidak dapat melawan Nya, karena itu kehendak Nya. Aku pun tidak bisa menawarnya karena hidup bukanlah ajang tawar menawar. Yang aku pertanyakan kepada mu, kenapa aku diperlakukan seperti itu. Kenapa aku harus ditinggalkan. Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk menata kehidupanku dihadapan mu, kenapa akhirnya aku harus kehilangan kamu.

Aku tadi sudah mengatakan kepada mu bahwa aku memang tidak dapat menjelaskan kepada mu apa yang sesungguhnya terjadi, yang aku dapat katakan hanyalah itu semua aku lakukan sama sekali bukan untuk suatu kejahatan, bukan untuk suatu keborosan, bukan untuk suatu kegiatan konsumtif, bukan untuk menunjang gaya hidup sex bebas yang tersiar merambah kemana-mana. Apa yang aku lakukan bukanlah untuk itu semua dan kegiatan lain yang berkonotasi negatif. Aku melakukan sesuatu untuk seseorang yang.... kalau aku diberi sedikit kesempatan untuk bersombong, sesungguhnya adalah bersifat mulia.

Yang harus aku akui untuk menjunjung tinggi kejujuran yang sesungguhnya aku sukai adalah aku menggunakan jalan yang salah. Itu, aku salah.

Sampai detik ini pun aku masih selalu bersedih, bertanya kenapa hubungan yang telah kita bina selama ini lenyap begitu saja. Atau mungkin selama ini aku yang bertepuk sebelah tangan, menggunakan istilah cak dahulu, apa yang aku rasakan dan aku lakukan kepada dirimu selama ini adalah ge er sepihak (pastinya, karena kalau ge er dua pihak tentunya sudah jadian dan yang terpenting jangan sampai ge er tiga pihak, karena pasti ada salah satu yang selingkuh). Sebetulnya beberapa kali tanda-tanda itu sudah kamu sampaikan kepada aku. Beberapa kali kamu sampaikan kalimat yang sangat tidak logis disampaikan kepada ku, dan aku selalu menerimanya dengan lapang dada (atau menerimanya karena aku memang bodoh?). Aku begitu .... entahlah, apakah aku mencintaimu, menyayangimu atau apapun, yang jelas aku selalu ingin bersamamu.

Kegilaanku untuk selalu ingin bersamamu itulah yang menutup mata dan telingaku, menghiraukan semua tanda-tanda yang sesungguhnya telah kerap kau sampaikan kepada ku sehingga dengan bodohnya aku selalu mendekatimu, memujamu dan menyayangimu.

Atau mungkin juga karena kamu begitu jujur, begitu suci, begitu profesional dalam menjalankan apa yang kamu yakini, sehingga saat aku terjatuh semua itu hilang dari kamusmu, dicoret dari buku kehidupanmu dan harus diisolir bagai penderita lepra dimasa kolonial dulu.

Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak bersalah, tapi yang aku yakini bahwa aku tidak serendah seperti yang kamu bayangkan, tidak senista bak penjahat kelas kakap dan tidak sekotor pencuri kampung kambuhan.

Aku terjatuh dan aku ditinggal. Ketika aku jatuh, semuanya pergi dan dengan kekuatan Nya aku dipaksa untuk bangkit sendiri, aku sakit karena jatuhku, aku terseok-seok, aku berdarah, lukaku pun belum sembuh dan karena karunia Nya juga akhirnya aku dipaksa untuk bangkit. Saat ini aku sudah dapat berjalan, meski masih terasa sakit namun aku sudah dapat berjalan jauh.

Aku tidak berharap kamu meminta maaf kepadaku, aku tidak berharap kamu merasa bersalah atas apa yang kamu lakukan kepadaku, yang aku harapkan kamu menyadari dengan sebaik-baiknya bahwa aku bukanlah kotoran dan semoga ketika suatu saat nanti ada disekitarmu yang terjatuh, kamu tidak akan meninggalkannya, aku berharap kamu dapat membantunya bangkit untuk berjalan dengan normal kembali.

Sayang, ini hanya cerita.....

Kamis, 06 November 2008

My Fabulous Forty

Kenyataanya saat kita semua harus menulis bilangan angka empat ketika mengisi kolom umur, khususnya perempuan – karena saya perempuan – jadi saat ini yang kita bahas adalah perempuan, ada beberapa bagian dari tubuh kita yang merubah sesuai dengan ketentuan alam, beberapa diantaranya adalah:

Metabolisme, secara perlahan turun sebanyak 2% per dekade

Otot, akan turun sebanyak 2,7 kg - 3,1 kg selama 10 tahun

Tulang, menyusut sekitar 1% per tahun sejak kita berusia pertengahan tiga puluhan

Libido, menurun yang disebabkan tingginya tingkat stress dan adanya perubahan hormon

Stress, meningkat tajam karena kekhawatiran mengenai anak, orang tua, kesehatan, karir dan masalah keuangan

Depresi, lebih dimungkinkan terjadi saat ini dari pada terjadi dimasa tua.

Untuk itu, saatnya kita menetapkan langkah-langkah pencegahan yang tidak hanya dapat mencegah terjadinya perubahan-perubahan di atas secara drastis, tetapi juga dapat menjadikan tubuh kita tetap sehat, kuat dan enerjik dalam menjalani tahun-tahun yang akan datang.


1. Eat Breakfast Every Day.

Para ahli gizi menyatakan bahwa mengkonsumsi sarapan pagi setiap hari secara teratur pada waktu yang sama adalah sangat penting untuk menjaga berat badan (kalau kita anggap tubuh kita sudah ideal) dan untuk membantu proses penurunan berat badan serta membantu terjadi peningkatan metabolisme melalui pembakaran kalori. Penelitian terbaru membuktikan bahwa perempuan yang mengkonsumsi sarapan pagi dengan jumlah yang cukup banyak akan kehilangan 21% berat badannya setelah delapan bulan, apabila dibandingkan dengan perempuan yang mengkonsumsi sarapan pagi dalam jumlah kecil, yaitu hanya mampu menurunkan berat badannya sebanyak 4,5%. Alasannya adalah, asupan yang cukup banyak pada awal hari akan bekerja bersama dengan metabolisme dimana metabolisme tertinggi terjadi pada pagi hari dan selain itu asupan tersebut juga berguna sebagai bahan bakar dari aktivitas yang akan kita lakukan serta mencegah terjadinya keletihan saat gula darah turun.


2. Jump-Start Your Metabolism.

Latihan yang kuat selama enam bulan akan meningkatkan kembali tingkat metabolisme yang mulai menurun, hal ini dapat menyebabkan terjadinya pembakaran kalori dalam tubuh kita meskipun kita hanya duduk-duduk disofa setelah melakukan latihan tersebut. Bonusnya, latihan yang kuat juga dapat menguatkan tulang, menjaga keseimbangan, dan mencegah terjadinya kecelakaan - penting untuk melindungi seluruh tulang kita saat ini dan pada masa tua nanti. Biasakan untuk berolah raga minimal 30 menit setiap hari, tujuh hari seminggu dan seterusnya....


3. Boost Calcium and Vitamin D.

Keduanya, vitamin D dan kalsium, sangat penting untuk menguatkan tulang. Para ahli mengatakan sebaiknya untuk mendapatkan hasil yang optimal kita mengkonsumsi 1.000 mg kalsium dan 800 – 1.000 IU vitamin D yang dapat kita peroleh dari makanan atau asupan suplemen keduanya.


4. Practice Stress Control.

Denyut jantung yang sehat dan tenang akan bertambah cepat ketika kita menarik napas dan bertambah pelan keetika kita membuang napas. Tetapi, ternyata stress menghalangi terjadinya perubahan detak jantung yang alami, stress justru mencetuskan terjadinya perubahan pada hampir seluruh bagian tubuh secara tidak sehat, termasuk peningkatan tekanan darah, berkurangnya enerji ke otak, libido yang menurun, dan mempercepat matinya sel-sel dalam tubuh. “Dampaknya dari stress adalah dapat membuat umur kita berjalan dengan sangat cepat” demikian Claire Michaels Wheeler, MD, PhD, penulis buku 10 Simple Solution to Stress. Untuk mendapatkan irama detak jantung yang sehat, tarik napas melalui hidung selama 4 kali detak jantung dan buang napas selama 8 kali detak jantung, lakukan paling sedikit dua kali sehari atau kapapun saat kita merasa tertekan. “Hal tersebut dapat mengaktifkan syaraf vagus yang bekerja dari otak menuju panggul, membuat jantung, otot, perputaran oksigen, pembuluh darah dan saluran pencernaan menjadi lebih lancar dan relaks”, demikian kata Wheeler.


5. Pump Up Protein.

Memilih makanan yang mengandung amino acid penting untuk melengkapi kebutuhan kita akan protein, minimal dua kali dalam sehari yang dapat menaikan tingkat suasana hati melalui syaraf pemancar dari otak, dimana hal ini dapat mencegah dan menghindari gejala depresi seperti daya ingat yang menurun dan lemahnya kemampuan untuk berpikir. Usahakan untuk mengkonsumsi 115 gram protein setiap kali kita makan. Sumber protein yang baik diantaranya adalah ikan, telur dan quinoa. Namun demikian hal ini tidak berarti kita harus menghilangkan karbohidrat seluruhnya dari setiap sajian makanan kita, karena karbohidrat pun dapat menaikan suasana hati melalui peningkatan produksi serotonin di otak.


6. Be Adventurous with Your Partner.

Coba sesuatu yang baru – tidak hanya didalam kamar tidur. “Ketika kita jatuh cinta, pusat dopamine diotak memanas seperti gila, dan hal ini juga terjadi ketika kita melakukan sesuatu hal yang baru dan berpetualang”, demikian yang disampaikan oleh Laura Berman, PhD, direktur The Berman Center, klinik sex terapi di Chicago. “Aktivitas seperti berdansa, melakukan perjalanan dengan tujuan yang baru dapat menstimulasi libido kita”.


7. Go Out with Your Girlfriends.

Bersantai bersama teman-teman dapat mengurangi stress, menaikan rasa percaya diri dan juga dapat meningkatkan rasa cinta kita kepada suami saat kembali kerumah. “Perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membina hubungan sosial, namun hal itu dapat turun secara drastis diusia empatpuluhan karena kondisi dan situasi dalam pekerjaan maupun keluarga” Edward Schneider, MD mengatakan, seorang professor dari University of Sourthern California. Perempuan yang memiliki hubungan sosial yang luas dalam keluarga, pekerjaan, organisasi sosial, kelompok agama ataupun hoby terbebas dari tekanan darah tinggi, diabetes, resiko terkena penyakit jantung dan stroke apabila dibandingkan dengan perempuan yang kurang menjalin kontak sosial dengan baik.


8. Get Essential Check-Ups. Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kesehatan, jangan mengabaikan pemeriksaan berkala atas tes-tes seperti di bawah ini:

Mata, setiap 2 – 4 tahun sekali.

Tekanan darah, setiap 2 tahun sekali.

Pap smear dan panggul, setiap 1 – 3 tahun sekali.

Thyroid, setiap 5 tahun sekali.

Tahi lalat (mole), setiap tahun.

Mammogram, setiap 1 – 2 tahun sekali.

Gula darah, setiap 3 tahun sekali sejak usia 45 tahun.

(Diterjemahkan dari Prevention website).






Selasa, 21 Oktober 2008

Tentang Bandung

Sebetulnya, kalau menurut agama ini tidak boleh, tepatnya tidak benar dan tidak baik. Maksudnya, saya tidak boleh marah-marah secara terbuka, apalagi melalui blog yang bisa dibaca oleh seluruh khalayak ramai (kalau ada yang baca...), perihal ketidak sukaan saya kepada seorang pemimpin yang sekarang sedang memimpin kota Bandung.

Maaf, dengan terpaksa saya mengeluarkan uneg-uneg padahal bulan masih bulan Syawal, artinya baru saja kita semua saling bermaaf-maafan. Harusnya, sebagai makhluk Nya yang sedang belajar untuk menjadi baik, baik dan baik terus, saya tidak mengomel dan nyerocos seperti ini, seharusnya saya lebih bersahaja dengan menyalurkan uneg-uneg ini melalui jalannya yang, konon katanya benar dan legal, yaitu melalui para wakil rakyat yang terhormat, yang saat ini biasanya sedang duduk terkantuk-kantuk, atau mata melek, melotot lebar, jari jempol tangan kanan sibuk bermain diatas tuts telepon genggang (atau lebih gaya lagi dengan menggunakan sekian jari dari kedua belah tangan karena sukses membeli telpon genggam yang mahal harganya) sementara kuping tertutup rapat oleh earphone cantik nan lembut mendayukan lagu merdu dan yang terpenting pikiran tidak diruangan karena toh topik yang dibahas tidak menarik atau lebih tepatnya lagi...”emang gue pikirin”....

Ups... sungguh... maaf lagi, saya sudah terlalu jahat menghakimi orang yang tidak salah (kata mereka) apalagi sebagai kaum terhormat dari golongan yang terpilih sudah tentu dilarang dihakimi tanpa adanya bukti, karena memang akan sulit sekali untuk membuktikan otak yang kosong....ups.... maaf...maaf...maaf... maaf.... sekaliiiii.... saya salah bicara....

Kembali kepada pokok pembahasan, ini tentang Bandung, kota dimana saya dilahirkan, dibesarkan, sekolah dan sejak tahun 1990 hanya saya tinggali pada hari Sabtu dan Minggu, kecuali hari libur tentunya. Kota yang sejak dulu sudah disebut sebagai Parijs van Java, Paris dari Jawa, nah... Paris...??? Kota terindah dan teromantis dimuka bumi menurut jajak pendapat para pembuka situs Travel & Living. Jadi, Bandung sama dengan Paris...???? hah.... cuih... ups.... maaf lagi kan... saya telah berlaku sangat tidak sopan, beraninya bercuah cuih mendengar Bandung sama dengan Paris. Tapi sebentar... sebetulnya sih kalau mau jujur memang tepatnya ya... itu tadi... cuih... ups... maaf....

Kemarin, ditengah terik matahari yang melanda kota Bandung dengan sangat panasnya (bahkan BMG pun sudah rela mengatakan “bumi makin panas”, terimakasih untuk alm. Bpk Motinggo Busye atas ungkapannya), saya melewati jalan Braga, jalan yang sesungguhnya kalau ditata dan dikelola dengan baik dapat dijadikan “the fifth avenue street from Bandung”. Jalan yang sejak jaman van vor de oorlog saja sudah jalannya para menak, para meneer en mevrouw terhormat, para priyayi ningrat yang berkenan melepaskan kepenatannya sehari-hari ditoko-toko terkenal sepanjang jalan, yang bagi saya terfavorit adalah de Snoephuis of Bogereijn of toko buku Jawa of toko Sin-Sin of Concurence yang bertaburkan emas berlian (karena itu memang toko emas).

Konon katanya, para pemuka pemimpin kota Bandung ingin mengembalikan kejayaan jalan Braga, yang salah satunya dengan mengganti jalan beraspal dengan batu paving layaknya jalan-jalan dikota tua nun jauh di Eropa sana. Dengan demikian, konon katanya lagi para pejalan kakilah yang nantinya akan menguasai jalan itu karena para oto berban empat atau dua dilarang keras melewati jalan itu. Konon katanya untuk yang kesekian kalinya, dengan memperbaiki infra struktur, ekonomi dijalan itu akan dikembalikan lagi, usaha ditingkatkan, kenyamanan diutamakan dan jadilah Braga kembali sebagai the first street di era jama baheula.

Maaf seribu maaf, saya tidak diperkenankan untuk mengatakan bodoh apa lagi goblog dan termasuk didalamnya tolol, tidak boleh! Kasar! Tidak beretika! Semua kata-kata itu harus segera dikubur dan dilupakan. Yang paling pantas hanya sekelas kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara....ya ampun, apakah pemimpin kota Bandung memang masuk dalam kategori kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara? Coba bayangkan, ditengah gembar gembor sebagian orang didunia ini meneriakan masalah global warming, ditengah perubahan cuaca yang beringsut menjadi anomali, ditengah suhu udara (dan berangsur masuk juga kedalam suhu politik...lho....) yang semakin memanas, memusingkan dan menyakitkan, para pemimpin terhormat kota Bandung pastinya sudah terpengaruh lebih dahulu, khususnya dalam hal pikir memikir. Mungkin, dugaan kuat dan dapat ditengarai, mereka itu sudah demikian lelah, capai kepanasan sehingga maksud hati menjadikan jalan Braga sebagai jalan yang dapat menyerap air hujan dikala musim hujan melalui konsep jalan bebatuan, mendadak (atau memang sudah direncanakan?) jalan dibongkar seluruh permukaan aspalnya, digali untuk diperdalam dan... maaf... gila bener.... ups, maaf lagi.... kemudian diaspal lagi.....???? Betul, diaspal lagi, ditutup pasir baru dipasang batu paving.

Betul, ini sungguh terjadi, betul memang mereka semua sudah masuk dalam kategori kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara. Bandung sudah kalah oleh Jakarta yang jauh lebih banyak jumlah pepohonannya. Bandung sudah kering, panas, berdebu, macet dan.... mulai memuakkan.... Bagaimana mungkin Bandung menjadi adem, tiis, hejo menyenangkan kalau bayang-bayang jalan Braga yang sejuk dilapisi batu paving penyerap air hujan dengan tumbuhan hijau dikiri kanannya justru diaspal dan dipaving pula.... sungguh kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara!!!!

Bandung butuh pohon, perlu dedaunan, keudah seeur nu hejo-hejo... pohooooooonnnnnn..... Ada lagi contoh kekurang pandaian, kekurang pinteran dan sangat tidak juara. Tahu jalan Riau atawa RE Martadinata? Tahu Taman Pramuka, kalau tahu pasti tahu juga pompa bensin tepat dimuka Taman Pramuka. Mendadak pompa bensin itu ditutup, dihancurkan dengan alasan.... cihuuuiiii.... akan dijadikan taman. Hebaaattt..... areal calon taman ditutup, dipagari karena akan dibangun taman indah dan hijau penuh pepohonan bakal paru-paru kota. Dan... tutup dibuka, terpampanglah taman baru yang dilapisi oleh tegel semen, kolam besar air mancur yang menyedihkan, pohon kecil, alias tanaman jenis tanaman hias yang jauh dari kemampuannya bekerja menyedot polusi udara sehari-hari. Taman tetap terik ketika siang hari mengingat tanaman hias hanya setinggi setengah meter. Tambah terik mengingat taman tertutup oleh tegel semen anti serapan air.

Sungguh kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara mereka semua itu. Betulkah... mereka yang kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara....??? sungguh...???? Dengan terpaksa dan berat hati saya katakan bahwa sesungguhnya masyarakat kota Bandunglah yang kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara. Masyarakat kota Bandunglah yang telah membuat kesalahan fatal, salah besar dan sulit untuk dimaafkan karena.... dengan sadar, jujur, bebas dan rahasia telah memilih orang yang sama, orang yang telah melakukan kesalahan atas kota Bandung selama lima tahun yang lalu, orang yang telah menjadikan kota Bandung centang perentang, berantakan, hiruk pikuk tak terarah, lingkungan rusak dengan segala dalih kemajuan yang menjijikan, masyarakat kota Bandunglah yang kurang pandai, kurang pinter dan tidak juara karena telah memilih orang yang sama untuk kembali memimpin kota Bandung.

Bandung...hik... riwayatmu dulu...hik.... heurin ku tangtung....hik.... kapan orang Bandung menjadi cukup pandai, cukup pintar dan cukup menjadi juara kedua ya......

Kamis, 04 September 2008

Menulis dan Membaca

Sekali-kali bicara masalah pekerjaan, tidak keberatan kan. Ini tidak melanggar kesepakatan antar suami isteri yang diantaranya dilarang membawa masalah pekerjaan kedalam rumah. Karena ini bukan rumah, ini tulisan, jadi boleh dong....

Sebagai financial dan management consultant (untuk menghormati jalur ketak berpihakan, saya tidak mencantumkan nama perusahaan tempat saya bekerja, takut client bertambah, gak enak dong), saya sangat bersyukur bahwa otak saya yang berkelas standar ini dipaksa dan terpaksa untuk selalu berpikir, mengurai permasalahan dari para client yang sudah tentu keseluruhannya bermasalah, baik masalah ringan maupun masalah super berat yang melibatkan perasaan dendam kesumat antar pemilik dan menyebabkan terjadinya kondisi terjun bebas atas omzet penjualan dari perusahaan yang selayaknya moncer membumbung tinggi ke atas.

Ternyata, berbekal pengalaman empat tahun sebagai konsultan (tapi empat belas tahun sebelumnya memicu karir diindustri perbankan lho), saya dapat mengambil kesimpulan bahwa seluruh permasalahan yang terjadi diberbagai industri baik jasa maupun non jasa kesemuanya bermuara pada kemapuan sumber daya manusia. Artinya, apakah yang disodorkan oleh client saya itu langsung masalah keuangan apalagi permasalahan yang diajukannya adalah masalah manajemen, pasti ujung-ujungnya adalah masalah sumber daya manusia.

Yang paling sederhana, client saya terdiri dari berbagai industri baik kelas menengah maupun kelas kakap. Jangan pernah berpikir bahwa client besar, ternama, sering masuk media untuk iklannya yang membabi buta, termasuk dengan iklan yang mencantumkan tingkat keuntungan yang setiap tahun selalu membumbung itu tidak memiliki masalah dalam sumber daya manusia. Hampir semua proposal yang masuk dimeja saya, dari sisi penulisan, penggunaan dan penempatan kata serta kalimat dan sistematis pemaparannya, dengan sangat menyesal dan mencengangkan dapat saya kategorikan dalam golongan “cukup menyedihkan”. Tidak jelek memang, tapi harapan saya terhadap nama perusahaan yang sudah terlanjur besar dan kondang itu berbanding terbalik dengan proposal yang mereka susun.

Menulis adalah salah satu hal yang termasuk dalam kategori kemampuan “tidak penting” bagi hampir semua perusahaan yang menjadi client saya. Secara langsung tanpa basa-basi saya sampaikan pendapat saya bahwa itu adalah hal yang tidak benar. Kemampuan menulis hampir dapat dipastikan berbanding lurus dengan kemampuan membaca. Hampir selalu mereka yang memiliki kemampuan menulis dibarengi dengan kemampuan membaca. Kemampuan membaca mereka sudah masuk dalam kategori gemar membaca dimana mereka yang memiliki kegemaran ini kerap kali lebih terbuka pola pikirnya, lebih banyak memiliki bekal pengetahuannya, lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya (baik dalam lingkup pekerjaan maupun lingkup kehidupan pribadi) dan lebih mudah menerima perbedaan.

Berbekal itu semua, dapat kita bayangkan bahwa suatu perusahaan melaju dengan kecepatan tinggi bermodalkan para karyawan yang memiliki kemampuan menulis dan kemampuan membaca (baca: gemar membaca) diatas rata-rata standar karyawan di Indonesia. Kecepatan tinggi yang dipacu oleh perusahaan tersebut tentunya terjadi karena mesin utama perusahaan (karyawan) adalah mereka yang tidak melulu memiliki intelegensi tinggi, tapi mereka juga dapat bekerja sama dengan baik, open minded, dan yang terpenting memiliki kemampuan membaca dan menelusuri serta menyelesaikan suatu masalah dengan baik juga.

Apa yang saya temui dilapangan kerap adalah hal yang sangat sederhana. Seorang manager muda bagian produksi, bertitel S 2 dari hasil jerih payahnya diuniversitas negeri ternama, lulus dengan nilai A, mengikuti program management trainee sebagai lulusan nomor satu, langsung ditempatkan sebagai manager produksi. Apa yang terjadi, sang manager lebih senang berkutat dengan teori yang dia peroleh selama masa pendidikannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan yang baru dijalaninya diperusahaan tersebut. Permasalahan yang dihadapi tidak dapat dituangkan dengan tepat dan terperinci dalam laporan harian, sehingga apa yang terjadi tidak dapat terdeteksi oleh sang penyelia. Kemampuan membacanya tidak dipergunakan dengan optimal, dimana sesungguhnya melalui majalah perusahaan, banyak hal yang dapat diambil guna mempermudah dan membantu menjalankan pekerjaannya sebagai seorang manager. Wal hasil, timbullah permasalahan, dan akhirnya perusahaan tersebut menjadi client saya.

Yang terlihat disini adalah kesalahan penempatan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh manajemen, kesalahan dalam memprioritaskan kemampuan dimana hampir semua perusahaan lebih menitik beratkan kepada kemapuan IQ yang sebaliknya justru menurut saya dalam melakukan pekerjaan tidak hanya kemampuan otak yang dipergunakan, justru pengembangan kemampuan lainnya yaitu antara lain menulis dan membaca-lah yang dapat lebih mengoptimalkan proses pekerjaan berjalan dengan baik dan benar.

Contoh di atas adalah salah satu contoh sederhana. Namun serumit apapun permasalahan yang terjadi dalam suatu perusahaan, hampir selalu berpangkal pada sumberdaya manusia.

Oleh karena itu, bagi siapapun yang membaca tulisan ini (kalau ada), baik setingkat manajemen atas, manajemen tengah maupun manajemen bawah, termasuk didalamnya adalah para direksi maupun para chief officer, hendaknya memprioritaskan kemampuan menulis dan kemampuan membaca bagi seluruh karyawannya, termasuk didalamnya adalah yang bersangkutan sendiri. Dorong mereka melalui cara apapun untuk mau menulis dengan baik dan benar serta mau membaca apapun guna membantu menjalankan pekerjaannya masing-masing. Suka tidak suka memang terbukti bahwa tingkat kemampuan menulis dan kegemaran dalam membaca pada negara industri maju jauh lebih tinggi dari tingkat kemampuan menulis dan kegemaran dalam memaca pada negara berkembang.

Ayolah, menulis itu tidak susah, membaca itu gampang, yang penting ada kemauan untuk memulainya dan menjalankannya terus menerus. Ayo menulis.... Ayo membaca....


Rabu, 06 Agustus 2008

ET + UFO = EVD

Erick Von Daniken... pernah dengar nama itu? Saya adalah salah satu penggila karya-karyanya sejak masih duduk disekolah menengah pertama, jadi kurang lebih sejak tahun 70an akhir. Mengasyikkan memang kalau sudah membaca buku-bukunya. Itulah sebab kenapa kaca mata pertama saya langsung berukuran minus satu setengah, karena kebiasan buruk yang masih terpelihara dengan baik sampai dengan sekarang yaitu selalu membaca sambil tiduran, berjam-jam sampai rasanya mata mau melompat kalau belum sampai pada titik yang terakhir.

Erick Von Daniken, rasanya dulu sih agak ngganteng kalau melihat foto dirinya dihalaman belakang setiap karya pak Erick itu. Tapi, belakangan, kira-kira dua bulan yang lalu, saya kembali melihatnya tidak dalam gambar mati tetapi dalam gambar hidup di National Geographic Channel, sang Erick kok sudah tua, lemu berjenggot berewok pula. Ah...rupanya gelindingan waktu ternyata mempengaruhi bentuk tubuhnya, terutama gravitasi bumi.....

Erick Von Daniken...maaf ya, saya terlalu banyak memberikan ilustrasi tentang pak Erick ini, saya sudah bilang kan, membaca karyanya saja sudah mengasyikkan, pasti membicarakan orangnya juga sama mengasyikkannya.

Ya...ya...ya..., kembali kepada pokok pembahasan, Erick Von Daniken itu adalah seorang pengarang, peneliti, sejarahwan dan penggiat yang berasal dari Eropa (Swedia atau Denmark ya, saya lupa), yang mengkhususkan diri dalam pembuktian akan adanya makhluk lain diluar sana selain kita yang sudah lawas menempati bumi biru ini.

Erick Von Daniken = Extra Teresterial + Unidentified Flying Object, atau, EVD = ET + UFO (sok ilmiah ya, sok matematikus sekali). Ya, siapaun yang tertarik pada dunia ini pastilah tidak lengkap dan kurang soheh kalau belum membaca karya-karyanya.

Saya sendiri adalah penggila tentang masalah ini, walaupun tidak segila orang-orang Eropa dan Amerika Serikat yang rela mengeluarkan uang pribadi untuk mengejar kebenaran ini dengan menjelajah seputar bumi bundar bulat biru atau mengirim sinyal-sinyal suara yang diharapkan suatu saat nanti akan mendapatkan balasan dengan sapaan: “HALLO JUGA”. Saya masih kelas yang sedang-sedang saja, hanya rela mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku terkait dan rela berlama-lama didepan komputer untuk menjelajahi dunia maya, membaca artikel-artikel terbaru, jurnal terkini demi...sekedarkan memenuhi keingintahuan saya yang belum terpuaskan sampai saat ini. The True is Out There... katanya mah begitu...

Sedihnya, ternyata saya masih belum menemukan teman sejenis maupun teman lawan jenis yang juga penyuka perihal sejenis ini. Untuk masalah ini saya betul-betul merasa kesepian, tidak ada tempat berbicara, tidak ada tempat mengadu dan tidak ada tempat berdiskusi, sepi deh... atau mungkin saya yang kurang bergaul barangkali, sehingga tidak mengetahui bahwa diluar sana ternyata banyak orang sejenis maunpun orang dari lawan jenis penyuka perihal sejenis ini.

Erick Von Daniken, dalam salah satu bukunya memaparkan tentang penemuan bukti-bukti di Amerika Latin, yaitu bentukan-bentukan yang dibangun kurang lebih 4000 – 3000 tahun sebelum masehi dan salah satunya diyakininya sebagai landasan pesawat terbang dari luar sana. Melihat foto yang luar biasa itu, saya pun berpikir, bagaimana mungkin, dijaman yang masih sangat rekiplik alias kuno tak berkemajuan bisa dibangun sebuah landasan, yang begitu panjang dan begitu luas dengan tingkat presisi yang mendekati sempurna dan hanya dapat dilihat dari ketinggian di atas sana. Bagaimana mungkin ini bisa tercipta kalau tidak dibantu oleh suatu tingkat intelegensi yang sangat tinggi untuk menjadikan landasan itu selesai dengan baik. Tidak hanya itu saja, bagaimana mungkin lagi, sebuah bentukan tergambar dengan jelas dan rapi, juga dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, terbentang pada sebuah lereng batu cadas yang sangat besar dan luas, kalau tidak dibantu dengan sesuatu yang memiliki tingkat intelegensi yang amat tinggi.

Belum selesai, disuatu candi milik bangsa Maya di Mexico, tergambar dengan jelas apa yang mereka yakini sebagai nenek moyang mereka, sesosok makhluk yang lengkap dengan helm luar angkasa dalam sebuah pesawat yang menyemburkan api besar dari bawah pesawat tersebut (coba tolong buka foto peluncuran Apolo, Sputnik atau Discovery yang terakhir ini, untuk membantu para pembaca (kalau ada yang baca) mewujudkan deskripsi saya di atas).

Dan masih banyak lagi...masih banyak lagi...masih banyak lagi bukti-bukti yang tidak dan belum terpecahkan sampai dengan saat ini, tapi sangat mendukung keberadaan dan kebenaran adanya mahkluk lain diluar sana....

Menurut penelitian, galaksi kita – The Milky Way alias Bima Sakti, terdiri dari milyaran bintang dan sejumlah buanyak benda langit lainnya, yang ternyata tidak berdiri sendiri. Karena, berdasarkan paparan para ahli yang pastinya soheh tidak suka berbohong apalagi mengada-ngada, sang Bima Sakti ini memiliki teman sejenis, yaitu galaksi lain yang jumlahnya bermilyar-milyar diseluruh alam semesta. Untuk mudahnya saya bantu menjadi bermilyar-milyar dikali bermilyar-milyar sama dengan ...

Maha Besar Tuhan, bayangkan, dengan keesaan Nya, dengan kekuasaan Nya, dengan kemahaan Nya, mungkin hanya dengan hitungan kecepatan jentikan dua jari tangan kita, terciptalah alam semesta ini yang tak bertepi, Maha Besar Tuhan.

Nyuwun pangapuro, hapunteun, maaf ya Tuhan, sesuai dengan titah Mu juga untuk menggunakan akal sehat demi mempelajari apa yang ada disekitar kita dengan tetap berpegang kepada Kitab Suci Mu Yang Maha Lengkap, saya mencoba untuk berpikir dengan jernih, sadar, tertib dan bersih tanpa adanya campur tangan dari manapun dan tidak dalam tekanan dari siapapun, apakah kita memang hanya sendiri?

Kata guru agama saya, karena saya bukan lulusan sekolah agama dan juga karena saya belum khatam memahami isi Kitab Suci Mu, tidak satupun surat maupun ayat yang menceritakan kehidupan mahkluk lain selain kita, manusia dan semua jenis lainnya yang ada diplanet biru ini.

Nyuwun pangapuro, hapunteun, maaf ya Tuhan... jadi untuk apa Kau ciptakan jagad alam sak besar ini? Maaf lagi, hapunteun, nyuwun pangapuro nggih Sing Bahurekso Gusti Allah Pangeran, mohon izin untuk dapat mengutarakan uneg-uneg dikepala saya yang belum pernah saya lontarkan dalam bentuk tulisan sebelumnya.

Ternyata saya adalah salah satu dari makhluk hidup berkaki dua golongan ras manusia yang meyakini (hapunteun pisan Pangeran upami lepat, maaf sekali ya Tuhan kalau salah, nyuwun pangapuro Gusti Allah Pangeran mergo kalepatan dalem) bahwa pasti ada mahluk lain diluar sana.

Logikanya yaitu, Tuhan itu adalah sang empunya ke Maha-an, Dia mampu menciptakan apapun, Dia mampu menjadikan apapun, Dia bisa berkehendak apapun tanpa perlu izin dari siapapun dengan tujuan yang tidak perlu diketahui oleh siapa juga. Ke Maha-an Nya telah menciptakan alam semesta tak bertepi dengan segala isinya termasuk produk-produk mainan kecintaan Nya yang dapat berupa binatang, manusia, tumbuhan, virus, bakteri dan lain sebagainya yang tidak kita ketahui untuk ditempatkan dilokasi mana saja, karena penempatan maninan kecintaan Nya pastilah sesuka Nya selayak dengan ke-Mahaan-Nya....

Sangat masuk akal (bagi saya) semua itu. Sederhana dan menyenangkan pula melihat kebesaran Nya. Permasalahannya adalah, ayolah Tuhan, izinkan kami para manusia berakal ini untuk dapat bertemu, minimal berkomunikasi dengan ciptaan Mu yang lain diluar sana. Izinkan saya terpuaskan dari rasa ingin tahu yang tidak pernah lekang dimakan waktu, mendapatkan pembuktian, mendapatkan kejelasan, mendapatkan kebenaran dari semua isi buku-buku yang telah saya baca dan kini menetap resmi menjejali penuh sebagian otak saya yang hanya memiliki berat tidak lebih dari tiga ons ini.

Izinkanlah ya Tuhanku, komunikasi kami terjawab dengan jelas oleh ET + UFO yang diperkenalkan oleh EVD kepada kami, manusia biasa, rakyat yang tidak jelata ini. Terimakasih Tuhan...










Selasa, 22 Juli 2008

MARI BERDEMO ?

Sejatinya setiap mereka yang bersalah pasti mendapat hukuman. Sejatinya setiap mereka yang bersalah pasti sadar atas hukuman yang akan diterimanya. Begitu juga sebaliknya. Sejatinya setiap penegak hukum harus menghukum mereka yang bersalah. Sejatinya para penegak hukum pasti tahu hukuman yang tepat bagi mereka yang bersalah. Tetapi kenapa justru akhir-akhir ini kesejatian tersebut sering lenyap entah kemana, dibawa siapa, hilang dimana, tidak ada yang tahu.

Maaf, Pak ganteng berkumis lebat saat ini sedang tidak dapat diganggu. Beliau sedang khusuk memanjatkan doa untuk berterima kasih kepada Yang Maha Rahim karena permohonannya dikabulkan. Permohonan apa? Lho, mosok sampeyan tidak tahu, beliau dinyatakan bebas murni atas seluruh tuduhan dan tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa kepadanya. Hah, bebas? Lho kok...?!?! Rasanya Pak ganteng berkumis lebat beberapa bulan yang lalu masih menyuruh kepada saya untuk mulai belajar menerima semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Saat itu semua data yang telah saya siapkan dan kemudian disita oleh polisi jelas menunjukkan kesalahan yang telah dilakukan oleh Pak ganteng berkumis lebat. Saya ingat sekali bahkan Pak ganteng berkumis lebat menyebutkan kutipan ayat-ayat suci yang berisi tentang kesalahan dan hukuman. Beliau nampak pasrah dan tegar. Lho kok...?!?!

Itu dulu, maklum kepepet, bukti nyata ada ditangan. Bicara pepet kepepet, hanya ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan oleh sang kepepet, pasrah mengaku bersalah atau ngotot sengotot ngototnya tetap tidak bersalah. Pak ganteng berkumis lebat saat itu pasti kepepet dengan pilihan pertama, bahkan langsung mencuat ide orisinil dikepalanya untuk sesegera mungkin menjadi juru dakwah, mengabarkan kebenaran semata kepada khalayak ramai. Tapi itu dulu Pak.

Sekarang lain punya cerita. Kesempatan ada didepan mata, mumpung masih ada "sedikit" tabungan yang tidak terlaporkan, mumpung para hakim kurus, loyo dan nampak kurang terurus, mumpung ada kasus yang lebih besar, lebih seru dan lebih spektakuler baru saja terkuak dan yang paling penting lagi, mumpung semua pihak menjunjung tinggi azas silaturahmi dan saling memaafkan, mari kita gunakan kesempatan emas yang saling menguntungkan ini untuk bersilaturahmi yang pada akhirnya bermaaf-maafan berujung kebebasan. Semua senang, semua untung, semua nyaman.

Tunggu, cerita belum selesai sampai disini yang terhormat Pak ganteng berkumis lebat. Diluar sana ternyata masih banyak para penonton, para pembaca dan para pendengar yang tidak senang, tidak untung dan tidak nyaman atas lakon komedi konyol berjudul silaturahmi bermaaf-maafan dengan pemeran utama Pak ganteng berkumis lebat serta para hakim kurus, loyo yang memang nampak tidak mau mengurus badannya sendiri.

Sepanjang para penonton, para pembaca dan para pendengar setuju bahwa lakon komedi konyol tersebut adalah sesuatu yang gila dan kelewat batas, minimal ada sekelompok hati nurani yang masih dapat dipakai dengan baik dan benar serta tahu bahwa lakon komedi konyol tadi adalah suatu kesalahan besar. Minimal ada kebenaran tersimpan dalam nurani mereka masing-masing. Minimal.

Tetapi, nurani saja sangat tidak cukup. Nurani hanyalah sosok dewi keadilan yang tidak dapat berbuat apa-apa. Maklum sang dewi, protokoler menyatakan bahwa dia hanya diperbolehkan bersabda tanpa bertindak. Itu sebab nurani harus disandingkan dengan keberanian. Hasilnya, akan lahir sosok tindakan yang akan maju menggagalkan lakon komedi konyol berjudul silaturahmi bermaaf-maafan dengan pemeran utama Pak ganteng berkumis lebat.

Tindakan harus mulai direncanakan, kekuatan harus mulai disusun. Ingat, pepatah dulu mengatakan bersatu kita teguh becerai kita runtuh. Tapi masalah besar kini muncul. Para penonton, para pembaca dan para pendengar semua ternyata hanyalah khalayak ramai dan rakyat jelata semata. Tindakan hebat yang paling heroik dan dapat dicatat dalam sejarah hanya sebatas pada aksi demonstrasi, teriakan yel-yel protes dengan keras dan tegas, berjalan bergerombol beriring-iringan dan yang paling top, bakar ban bekas atau pada akhirnya berujung anarkis, brutal, mengerikan....

Maaf saudara, itu tidak salah (kecuali tindakan anarkis, tentunya) tapi sayang masih belum merata apalagi adil. Jangan biarkan selalu hanya khalayak ramai dan rakyat jelata saja yang bertindak dan merasa bertanggungjawab untuk menolak lakon komedi konyol yang menjijikkan itu. Sudah saatnya para pemimpin, para petinggi, para handai taulan yang terhormat dan semua kaum yang merasa jengah untuk disebut rakyat jelata ikut bertindak.

Tapi apa iya kita juga mau ikut bertindak? Bertindak? Ikut demonstrasi begitu? Berpanas-panasan sambil teriak-teriak, berjejal-jejalan dan pada akhirnya bertatapan mata dengan bapak pulisi yang marah mengejar kita sambil menghunuskan pentungannya, terkena semprotan air yang sangat kuat atau mata meleleh akibat bom air mata, seperti itu?

Aaaaaaahhhhhhhhh............yang benar, mosok saya harus ikut gehgeran seperti itu, maaf, saya hanya pegawai biasa lho (hah..? pegawai biasa, setiap hari pakai jas Ermenegildo Zegna atau sepatu hak tingi dari Bally dengan Kelly bag merek Loewe? Itu pegawai biasa?????.......), betul hanya pegawai biasa yang masih sangat memerlukan kepastian gaji atau kemulusan jalannya usaha pribadi demi menunjang kelangsungan kehidupan kami sekeluarga. Lah kalau saya ikut keramaian dan keriaan seperti di atas, itu namanya korupsi waktu, ndak baik itu untuk konduite dimata direktur, juga tidak enak dilihat mitra kerja, jangan ah, saya hanya pegawai biasa yang harus memberi contoh dan (justru ini yang terpenting) kesan yang baik dimata sang bos tercinta (cukup kesan, tidak perlu lebih, pernak-pernik didalam biar hanya saya yang tahu, maaf...).

Biarlah mereka, maaf, rakyat jelata saja yang gehgeran, berkeriaan, berkeramaian, toh mereka memang memiliki banyak waktu senggang dan juga mendapat jasa prestasi sebesar lima puluh ribu rupiah perorang per hari (lho kok lebih kecil dari biaya makan siang saya sehari ya?). Cukup toh, merekapun senang kok, masuk telepisi....

Maaf lho, bagi para penonton, para pembaca dan para pendengar yang merasa tersinggung dan tidak merasa berkelakuan dan berkepribadian seperti pak-nya dan bu-nya di atas yang hanya pegawai biasa, maaf lho dengan tulisan ini. Tapi, kalau boleh kita jujur, sekaliiiii...... ini saja, nek dipikir-pikir, coba buka mata lebar-lebar, lihat dengan titi teliti semua media cetak dan media televisi, tepat disaat berita disiarkan (ingat, berita! Bukan sinetron! Jangan salah!), ketika semua media-media itu menampilan gambar perihal demontrasi A, atau B maupun Z, kok ya, maaf sekali lagi, lebih banyak rakyat jelata, agak sedikit kumuh dan kurang sedep dipandang yang ikut kegiatan keriaan dan keramaian tersebut, betul lho.

Ada saluran televisi berlangganan dirumah? Coba putar BBC, CAN, CNBC, CNN, Al Jazeera, mari kita lihat bersama tayangan demonstrasi di Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Vietnam dan sarupaning negara asia lainnya, bahkan di Pakistan yang tengah penuh dengan huru hara, dengan alasan apapun, kok ya rapi, pakaian bersih, tertib meski tetap penuh dengan teriakan dan maaf (lagi-lagi maaf) nampak lebih student alias lebih berpendidikan.

Apa yang salah? Siapa yang salah? Hah....???? Breaking news: sesuai dengan pantauan dan hasil pengamatan sebuah lembaga independen tentang “perilaku reaksi masyarakat menengah atas terhadap kebijakan pemerintahnya dibeberapa negara di Asia”, yang berkedudukan di India, ternyata kelas menengah atas di Indonesialah yang paling tidak memiliki keinginan untuk terjun langsung bereaksi atas kebijakan pemerintahnya meski dinilai merugikan rakyat secara umum.

Luar biasa.... akhirnya saya kembali ingat dengan sebuah iklan furniture yang dulu diperankan oleh almarhum S. Bagyo: “sudah duduk lupa berdiri....” maklum kursi empuk....

(alinea terakhir khusus untuk pengakuan dosa: apa saya berani ikut demonstrasi didepan DPR, depan Istana, atau dimanapun? Apa saya berani ya.....???? hiiii.......!!!!!)

Selasa, 10 Juni 2008

Surat Seorang Tante Untuk Keponakannya

Hai Jibongki,

Waduh, gara-gara masalah IPeh jadi kepikiran nih. Ah mosok sih, yang namanya Jibongki pake acara stress.... ndak mungkin... ndak mungkin itu, ma'sudnya ndak mungkin dan ndak boleh... jangan dhong, mosok umur baru 19 tahun udah ikut-ikutan stress, kayak para pengiring dalam lingkungan Ring 1 aja yang stress mikirin BBM naik.

Jibongki, sumpiah kecil-kecil kalau gede lumpiah, hidup ini gak gampang. Daku gak maksud nakut-nakutin kamu, tapi daku malah mau membuka cakrawala dikau sehingga bisa lebih realized to the actually of life, sadar bahwa hidup ini (apalagi jaman sekarang) keras dan perlu orang-orang kuat (not only physically but also mentally), tangguh dan cerdik (bukan melulu pandai!) tapi penuh dengan rendah hati, toleransi dan mengerti etika serta cinta damai.

Gak gampang Jibongki, bitul itu, kalau gampang mah kagak rame atuh, kebayang dong sepanjang jalan kita ketemu orang saling manggut-manggut, senyum simpul, ramah temeh, saling cium, berpelukan... wah gak rame deh. Jostro Tuhan menciptakan kita dalam bentuk kertas kosong, waktu kecil yang mengisi dan menulis kertas itu adalah orang tua dan keluarga, nah sudah besar porsinya dirubah, kamu 70% yang menulis kertas kosongmu untuk menjadi dirimu sendiri, dan ortu serta keluarga cuma dapat porsi 30% untuk membantu menjadikan dirimu seutuhnya, noh kayak yang dialenia atas, itu emang udah aturannya, hukum alamnya begituh. Belum tentu berhasil pula, kalau berhasil semua, kasian dong sang Mikail penjaga neraka, kagak ada gawenya.

No body perfect, that is rule number one! Tapi juga bukan berarti karena kage ade nyang sempurne, kita bisa letoy-letoy aje sekedar jadi “yang sedang-sedang saja...”. Wah itu mah gak seru, itu kelasnya nanti yang turun naik bis, gendong anak disisi kiri dan sisi kanan nggandeng anak yang satu lagi, mana umbelan, nangis pengen masuk Mc D, tapi ortu gak punya uang, jadi cuma bisa nonton doang sambil ileran.

You have to fight, that is rule number two! Kamu masih muda, jangan biarkan diri kamu terkurung dalam kata-kata kamu sendiri, “aku stress nih”. Bisa jadi itu memang terjadi dalam diri kamu, bisa jadi hanya ketakutan sesaat. Tapi percayalah, akan menjadi apa diri kita adalah perwujudan dari apa yang kita gambarkan, apa yang kita inginkan, apa yang kita pikirkan atas diri kita sendiri. Kamu gagal, tiga semester IP gak bagus terus, ok, sedih dong (plus malu juga kaleee... tambah sebel lagi), tapi kalau kamu selalu bilang “aku stress, aku stress, aku stress, jangan ingetin aku tentang itu, jangan ungkit-ungkit lagi de es be, de es be, de es be”, yang terjadi kamu akan stress beneran, yang sebetulnya kamu perlu konsentrasi untuk semester ini, akhirnya tanpa kamu sadari, deep in your heart, kamu emang bener stress, daya tahan fisik menurun (korelasinya sangat tinggi antara daya tahan tubuh dengan mental) dan sakit lah dikau. Emang sih, anak muda juga manus, tapi gak seru ah kalau dikit-dikit baca dipapan informasi berita RT, kamu sakit mulu.

Coba kamu balik sekarang, walupun mulanya takut, gak berani, deg-deg plas dan lain sebagainya, coba tantang rasa stress itu. Caranya, indoktrinasi diri kamu dengan bilang “IPeh jelek, emang gue mati, kagak coy, IPeh sekarang boleh jelek tapi besok gue jadi jawara IT!”, terus-terus dan terus, kalau rasa itu lagi datang, sedih, kecewa, kesel de es be, cepet indoktrinasi diri sendiri. Ini namanya self healing. Mengobati rasa sakit (mental maupun fisik) oleh diri sendiri. Penemu dan pelopornya adalah DR. Jill dari Brain Clinic Silicon Valley, USA. Dia meneliti ini selama 35 tahun, jadi gak main-main.

Dan ini sudah daku lakukan, kamu tahu dong, daku juga kan lagi dapet seabreg masalah, setiap rasa itu lagi datang, apa deg-degan, takut liat kenyataan, malu dan banyak lagi, daku langsung lakukan self healing, mengindoktrinasi dengan kata-kata ku sendiri, yang otomatis (sumpiah nih) rasa berani itu datang, hati jadi tenang dan kembali normal lagi.

Ternyata eh ternyata, Islam sudah mengajarkan itu semua sejak 1400 tahun yang lalu, itu yang namanya TASAUF, melalui ibadah-ibadah yang kita lakukan, shalat tepat waktu, puasa sunah, dan please, lakukan ini: BACA Al QURAN SETIAP HARI, even hanya satu ayat (tapi kebangetan juga sih, satu ain kan bisa) beserta terjemahannya, percayalah, rasa-rasa itu, walaupun masih suka datang, tapi akan dengan cepat pergi dari diri kita. Itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kita, untuk menikmati MUKZIZAT Al QURAN dengan membacanya setiap hari, dan itu masuknya dalam self healing. Kudu setiap hari! Jangan tunggu nanti, rugi! Kita kan pengen cepet-cepet nikmatin mukzizat Al Quran.

Jangan pernah berharap kamu sukses, kamu kuat, kamu sehat, kamu berhasil tanpa melakukan usaha-usaha besar. Usaha kecil, hasilnya kecil, usaha besar, ya hasilnya juga besar. Itu janjinya Tuhan loh, bukan daku.

Jibongki, rasa malas itu, rasa takut itu, rasa marah itu yang semuanya sama dengan stress, ternyata adalah setan. This is true! Daku baru tahu sekarang-sekarang ini, sejak berobat dengan Kiyai, gurunya Eyang. Itu Kiyai (namanya Bpk. Muchtar Adam, pemimpin pesantren Babussalam di Bandung,) bukan asal Kiyai, dia jawara dalam hal masalah self healing (TASAUF), sakit fisik, sakit mental, baik karena diri sendiri maupun karena faktor “x”, dia jawaranya. Pak Muchtar Adam itu belajarnya ke Iran, ke Irak, ke Arab Saudi udah bolak balik kayak Bandung – Cirebon, Bandung – Semarang, Bandung – Jakarta, pokoknya bak bis antar kota antar provinsi deh.

Salah satu syarat daku untuk sembuh adalah membaca Al Quran, Tahajud, Puasa Senin – Kamis, gak boleh putus. Lha, kita juga pan manus, jam 3.30 pagi kudu bangun, yah... pigimana gituh..., terus diajarin ama oom Kiyai itu, kalau rasa malas itu datang, langsung aja bilang “setan loe, jangan ganggu, pergi sana, dasar jin iblis terkutuk...” pokoknya hina dina dia sekasar-kasarnya dan serendah-rendahnya, karena dia memang lebih rendah dari kita, bersuara ya, jangan dalam hati, tapi jangan juga didepan orang, ntar disangka “embetje eng” dong, dan.... sumpiah kecil-kecil kalau besar lumpiah, rasa itu hilang, kalau males, jadi hilang malesnya, kalau lagi takut, jadi hilang takutnya, kalau lagi sedih, jadi hilang sedihnya, kalau lagi deg-degan ya jadi tenang hatinya. Coba deh.

Tapi semua itu Bong, harus dari kamu, daku sih cuma bisa ngomong doang ampe berbusa. Nulis email ampe ini mata juling, tapi kalau kamunya mandeg, gak mau berusaha, ya... gitu deh...

ABOUT YOUR SELF, IT DEPEND ON YOU, ABSOLUTELY. We, the others could only support you not change you!

Tambahan lagi nih Jibongki, biar sekalian panjang deh, juling-juling deh dikau, yang penting, kamu berusaha, tapi berusaha dengan benar dan baik, nah yang tahu ya cuma kamu, jujur pada diri sendiri. Udah belajar setiap hari, even only two hours? Udah ngobrol ama sang dosen ndableg (ups sorry...) apa mau loe sih, lha kagak nanya ya kagak bakal tahu atuh rahasia jimat adikuasanya. Udah minta tolong Tuhan?, dengan shalat wajib tepat waktu (ya kalau lagi kuliah mah kagak usah maksa-maksa amat), tahajud (gak bisa tiap malam, ya tiap malam Jumat aja dah), udah baca Al Quran tiap hari? mosok SMP, SMA di sekolah Islam kagak ada bekasnya, malu ah, daku aja masih hafal Salam Maria dan Bapak Kami, hayooo.... padahal already 24 years ago....

Nah, kalau kamu udah lakukan semua itu, tambah lagi self healing tapi masih tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, artinya Tuhan punya RKA (Rencana Keselamatan Allah SWT), dan hanya dia yang tahu apa itu. Pan kamu lebih tahu dari daku, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Nya, ya toch broer...

Lagian, IT itu adalah ilmu paling moncer, ilmu segala jaman, ilmu sampai dunia tutup. You know dong brother, mas Bill Gates itu kan gak lulus S1, mosok gak tahu sih. Bayangin, kagak lulus aja bisa jadi orang terkaya didunia sampai dengan tahun 2007 dengan total kekayaan USD 54 miliar, buju buneng...

Shebab Zirowsky, anak umur 21 tahun, orang Rusia, pertahun 2006 dia masuk sebagai salah satu orang terkaya didunia urutan yang udah mau habis (498 atau 495, lupa, versi Forbes 500). Belum lulus S1, tapi dia sudah bisa bikin program yang laku di Rusia, total kekayaannya USD 2 milyar, biji bineng....

IT itu is about innovation, is about creative, is about dreaming, is about net work, is about hard working..... yang semuanya itu bisa kamu dapetin dengan.... hayo apa.... hayo coba pikir.... gak tahu?, nih.... dengan MEMBACA, baca broer... baca.... Sampe bongkotan kalau gak suka baca, ya idenya sak batas Rawabelong aja, Itu para jawara IT, baik yang gak lulus S1 atau yang cuma di S1 aja, coba datang kerumahnya, bukunya buset.... seabreg.... gak suka lewat buku, no problemos, browsing di internet. daku juga lagi cekak, gak bisa terus-terusan beli buku, ya browsing lah di internet, terpenuhi kok, sumpih.... kagak ada bedanya.

Ok Jibongki, kelamaan nulis jadi gak kerja nih, sekali lagi, karena daku pernah gagal, karena daku pernah membuat kesalahan, makanya daku berbagi dengan mu, tapi semua itu, it is absolutely up to you.....

Love you,
daku

Rabu, 07 Mei 2008

BERPIKIR YANG BENAR

Sejak kecil sebenarnya saya sudah selalu berpikir “takut berpikir”, saya sering takut berpikir karena saya tidak pernah yakin (sesungguhnya) bahwa apa yang saya pikirkan itu adalah sesuatu yang benar.

Bermula ketika saya duduk dibangku sekolah dasar diawal tahun tujuh puluhan. Saat itu saya diminta oleh zuster saya untuk menjelaskan didepan kelas apa arti sebuah persahabatan bagi saya. Semalaman saya berpikir bahwa sahabat itu adalah teman bermain, sahabat itu selalu ada disamping kita, sahabat itu selalu berkata jujur, sahabat itu selalu setia, sahabat itu titik, titik, titik... yang semuanya berisi kaidah dasar moral, etika dan agama yang diajarkan oleh orang tua dirumah maupun para tetua disekolah.

Namun menjelang keberangkatan saya ke sekolah, esok harinya, didalam mobil duduk ditengah diapit oleh kedua kakak saya, saya berpikir, bagaimana kalau suatu hari saya tidak masuk dan tidak bermain dengan sahabat saya, apakah artinya saya sudah tidak menjadi sahabat lagi? Bagaimana kalau suatu saat saya tidak ada disampingnya, apakah gugur sudah jabatan saya sebagai seorang sahabat, bagaimana apabila suatu saat saya tidak jujur kepadanya, karena saya tahu dengan pasti bahwa sahabat saya itu cengeng dan dia akan selalu menangis berteriak, memekakkan kuping kiri dan kuping kanan saya hanya karena tahu bahwa hari itu Ibu Maria tidak masuk dan akan digantikan oleh Zuster Paula yang tidak disukainya, dan bagaimana-bagaimana lainnya yang memenuhi kepala saya apabila saya tidak dapat memenuhi persyaratan yang telah saya pikirkan masak-masak untuk memaparkan dihadapan teman-teman saya nanti, apakah arti sahabat itu bagi saya.

Tepat jam tujuh lewat sepuluh menit, sesaat setelah berdiri tegak rapi berbaris untuk memasuki ruang kelas dan mata pelajaran pertama diawali dengan berdoa Bapak kami bersama-sama, saya berjalan maju kedepan kelas, dan saat itulah saya terpaksa mengubah semua konsep pemikiran yang sebelumnya telah saya rancang dengan sebaik-baiknya bahwa sahabat tidak harus selalu ada, sahabat tidak harus selalu berada disamping, sahabat tidak harus selalu jujur, tetapi, satu yang saya pikir tetap harus dipertahankan, bahwa menjadi sahabat itu harus selalu setia, disaat suka maupun duka.

Sambil terbata-bata (karena takut melihat sosok Zuster Eduarda yang berbadan bak raksasa pemangsa Hazel & Gretel), saya sampaikan pokok pikiran saya perlahan sambil tetap berpikir, apakah pikiran saya ini benar atau tidak.

Dan ternyata, kebiasaan tersebut berlanjut sampai sekarang. Sekian puluh tahun sudah terlewati dan saya masih sering ragu (walaupun 99% orang yang mengenal saya mengatakan bahwa saya adalah tipe mahluk Tuhan yang kelewat pédé), apakah yang saya pikirkan ini adalah benar, tepatnya, tidak hanya benar tetapi baik dan benar.

Jari tangan dan jari kaki saya tidak cukup untuk menghitung berapa orang pandai yang dimiliki oleh bangsa ini. Luar biasa banyaknya. Tidak hanya mereka yang pandai disertai sederet huruf besar perlambang strata pendidikan diawal dan-atau diakhir nama mereka, tetapi sederet orang pandai tanpa gelar atau yang memang tidak bersedia membuang-buang tinta demi mencetak gelar yang telah “dengan susah atau dengan mudah” mereka dapatkanpun jumlahnya sangat banyak.

Sangat menyenangkan dan membanggakan bahwa kita benar-benar memiliki banyak orang pandai yang pastilah mereka dapat menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan bumi ini.

Namun, kenapa kita tidak juga maju? Kenapa kita tidak juga makmur? Kenapa kita tidak juga merasakan keadilan yang merata? Kenapa juga kita tidak merasakan kedamaian dan kebebasan yang hakiki dalam kehidupan yang semakin tua ini?

Kembali saya berpikir (walaupun tetap merasa apakah pikiran saya ini benar), apakah mereka semua para cerdik pandai itu telah benar-benar berpikir, meluangkan waktunya untuk memerah bermiliar sel dikepala mereka masing-masing untuk kemudian diamalkan kepada seluruh kawula diwilayah Nusantara ini, sehingga minimal sejajarlah kita dengan negara tetangga yang telah lebih dahulu dikenal oleh dunia kebanyakan (karena kemajuan ekonominya, kemajuan teknologinya, kemakmuran rakyatnya dan lain sebagainya, bukan karena bom di Bali, bukan karena sekeluarga kompak bunuh diri dan saling membunuh dan bukan juga karena telah berhasil menjadi jawara pertama dalam lomba korupsi dan kemacetan ibu kota).

Seandainya, mari kita berpikir sambil berandai-andai, para cerdik pandai itu dengan segala kekurangan dan kelebihannya bersatu padu, mengutamakan kepentingan bersama, kepentingan para Ibu dan Bapak tua yang terseok-seok berhimpitan, kepanasan dan pada akhirnya pingsan hanya untuk tiga lembar uang IDR berwarna merah yang dibagikan oleh para juru bayar pemerintahan, mengutamakan kepentingan anak-anak yang kesulitan belajar dengan tenang, tidak takut kehujanan, tidak takut kepanasan dan tidak takut mati tertindih atap yang sudah reyot (karena kalau takut tidak bisa bayaran sekolah itu sudah basi), para cerdik pandai yang mau mengutamakan para Ibu yang selalu mengeluh dipasar karena setiap hari harga berubah-ubah, para Bapak yang merasa kesal karena setiap kali sampai dirumah para isteri sudah siap dengan keluhan baru perihal uang, uang dan uang lagi...., seandainya para pandai mau berpikir tanpa harus merasa was-was akan kedudukannya, merasa was-was karena pundi-pundi yang belum juga membengkak, merasa was-was karena ancaman para pihak yang akan menyerang diri dan keluarganya (akibat hutang budi atau hutang uang masa lalu) apabila hasil pikirannya yang dirasa benar, benar-benar dipublikasikan dan diaplikasikan dalam regulasi-regulasi kepemerintahan, saya yakin, dan Anda juga pastinya, apa yang saya pikirkan selama ini pastilah benar, benar menjadi kenyataan bahwa kita juga bisa menjadi bangsa yang sama majunya dengan bangsa lain diplanet biru ini.

Saya lelah, saya (maaf) muak dan pada akhirnya saya lebih senang menonton acara bertema binatang atau masak-memasak dari pada harus menonton dan mendengarkan berita yang penuh dengan kesulitan (yang sebenarnya adalah kesulitan yang dibuat oleh “kita sendiri”), berita yang penuh dengan kejahatan (yang sebenarnya kejahatan yang dibuat oleh “kita sendiri”) dan yang terparah adalah berita yang penuh dengan kebodohan (yang sebenarnya kebodohan itu adalah ciptaan “kita sendiri”).

Akhirnya saya kembali berpikir lagi, apakah mereka semua sudah berpikir dengan benar dan baik atau ternyata mereka hanya sekelompok orang yang selalu merasa “gue pikir gue bener, gue pikir gue baik....”

Sayang, saya hanyalah seorang KINI2603, jadi saya hanya dapat berpikir dan menulis, itupun sambil merasa was-was, apakah pikiran saya itu benar dan baik adanya...